Melalui jaringan backlink yang kami miliki merupakan penyedia jasa backlink menerima berbagai backlink Indonesia dengan layanan jasa backlink murah yang kami kelola secara manual dan profesional. Kami menawarkan jasa backlink terbaik. Bagaimana cara membeli backlink dari kami?. Silahkan πŸ‘‰ Hubungi Kami! harga sangat terjangkau!

Content Placement

Berikut adalah daftar 50 situs Jaringan Backlink kami!
01. Backlink Indonesia 26. Iklan Maluku Utara
02. Backlink Termurah 27. Iklan Nusa Tenggara Barat
03. Cara Membeli Backlink 28. Iklan Nusa Tenggara Timur
04. Iklan Aceh 29. Iklan Online Indonesia
05. Iklan Bali 30. Iklan Papua
06. Iklan Bangka Belitung 31. Iklan Papua Barat
07. Iklan Banten 32. Iklan Riau
08. Iklan Bengkulu 33. Iklan Semesta
09. Iklan Dunia 34. Iklan Sulawesi Barat
10. Iklan Gorontalo 35. Iklan Sulawesi Selatan
11. Iklan Internet 36. Iklan Sulawesi Tengah
12. Iklan Jakarta 37. Iklan Sulawesi Tenggara
13. Iklan Jambi 38. Iklan Sulawesi Utara
14. Iklan Jawa Barat 39. Iklan Sumatra Barat
15. Iklan Jawa Tengah 40. Iklan Sumatra Selatan
16. Iklan Jawa Timur 41. Iklan Sumatra Utara
17. Iklan Kalimantan Barat 42. Iklan Terbaru
18. Iklan Kalimantan Selatan 43. Iklan Yogyakarta
19. Iklan Kalimantan Tengah 44. Jaringan Backlink
20. Iklan Kalimantan Timur 45. Jasa Backlink
21. Iklan Kalimantan Utara 46. Jasa Backlink Murah
22. Iklan Kepulauan Riau 47. Jasa Backlink Terbaik
23. Iklan Lampung 48. Jasa Backlink Termurah
24. Iklan Link 49. Media Backlink
25. Iklan Maluku 50. Raja Backlink

Kami jaringan backlink sebagai media backlink bisa juga menerima content placement yakni jasa backlink termurah kami di dalam artikel. Pesan segera jasa backlink termurah ini. Karena kami adalah raja backlink yang sebenarnya!

Peluang Agen Iklan Online

Belajar SEO

Info informasi Belajar SEO atau artikel tentang Belajar SEO ini semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan. Selamat Membaca! Jangan lupa dishare juga! Jika merasa artikel ini bermanfaat juga untuk orang lain.

Belajar SEO


Whitney Houston Meninggal

Posted: 11 Feb 2012 06:43 PM PST

Whitney Houston meninggal penyangi bersuara emas Whitney Houston meninggal dunia Whitney Houston meninggal Whitney penyanyi bersuara emas Whitney Houston dilaporkan meninggal dunia pada hari Sabtu (11/2) malam waktu setempat. Namun penyebab dan lokasi meninggalnya penyanyi pop tersebut masih simpang siur.
Whitney Houston meninggal
Whitney Houston
Berita kematian Houston datang di malam perayaan bagi insan musik Grammy Award. Informasi awal datang dari publisis Houston Kristen Foster yang mengkonfirmasi tentang kematian Houston. Sepanjang hidup Whitney Houston penuh kontroversi, termasuk tentang ia sebagai pengguna obat-obatan terlarang.

Houston memulai karier menyanyinya di tahun 1980-an dan hingga akhir 90-an Houston masih terus menjadi artis dengan penjualan album terlaris. Beberapa lagu yang populer dan meledak di pasaran antara lain I Will Always Love You, Waiting to Exhale, I Have Nothing. Whitney Houston menjadi inspirasi bagi banyak penyanyi muda, seperti Christina Aguilera hingga Mariah Carey.

Sebelum dilaporkan meninggal Houston diminta dokter pribadinya untuk segera mengubah gaya hidupnya. Perempuan berusia 47 tahun itu diminta harus berhenti merokok jika masih ingin bertahan hidup.

Pernyataan itu disampaikan dokter pribadinya setelah Houston didiagnosa emfisema di tubuhnya. Emfisema merupakan penyakit paru-paru kronis yang ditandai kerusakan jaringan sehingga paru-paru kehilangan elastisitas.

Hilangnya elastisitas itu membuat udara di dalam paru-paru tidak bisa keluar dan masuk dengan normal. Akibatnya kantong udara akan membesar karena penumpukan udara di dalamnya. Dalam kondisi ini, penderita biasanya memperlihatkan gejala sulit bernapas. Penyebab utama emfisema adalah rokok. (DSY) MetroTVNews.com

Pengertian Aqidah

Posted: 10 Feb 2012 09:13 PM PST

Pengertian Aqidah - Pengertian Aqidah apa itu pengertian aqidah definisi atau pengertian aqidah adalah aqidah pengertian aqidah (Ψ§Ω„ΨΉΩ‚ΩŠΨ―Ψ©) dari segi bahasa (etimologis) berasal dari Bahasa Arab (ΨΉَΩ‚َΨ―َ) yang bermakna 'ikatan' atau 'sangkutan' atau menyimpulkan sesuatu.

Menurut istilah (terminologis) 'aqidah' bererti 'kepercayaan', 'keyakinan' atau 'keimanan' yang mantap dan tidak mudah terurai oleh pengaruh mana pun sama ada dari dalam atau dari luar diri seseorang.

Pengertian aqidah dalam Al-Quran adalah keimanan kepada Allah SWT yakni mengakui kewujudan-Nya. Dari segi fungsinya Allah SWT sebagai Rabb (Ψ±Ψ¨), Malik (Ω…Ω„Ωƒ), dan Ilah (Ψ₯Ω„Ω‡) seperti dapat dilihat dalam Surah Al-Fatihah ayat 1, 3, 4, Surah An-Nas ayat 1, 2, 3. Berdasarkan ayat di atas, Aqidah Islamiyah dapat disimpulkan dengan rumusan

    Tauhid Rububiyah.
    Tauhid Mulkiyah.
    Tauhid Uluhiyah.

Aqidah Islamiyah
Aqidah Islamiyah adalah Iman kepada Allah SWT, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Kiamat, Qada dan Qadar (baik buruknya) dari Allah SWT. Makna Iman adalah pembenaran secara pasti (tashdiq al-jazim) sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil. Jika pembenaran saja tanpa disertai dalil tidak digolongkan Iman, kerana tidak termasuk pembenaran yang pasti kecuali apabila bersumber dari dalil. Jika tidak disertai dalil maka tidak ada kepastian.

Jadi, kalau cuma pembenaran saja terhadap suatu berita tidak termasuk Iman. Berdasarkan hal ini pembenaran harus berdasarkan dalil agar menjadi bersifat pasti, atau agar tergolong Iman. Ini bererti adanya dalil terhadap segala sesuatu yang dituntut untuk diimani adalah suatu hal yang pasti agar pembenaran terhadap sesuatu tadi tergolong Iman. Maka adanya dalil merupakan syarat utama adanya keimanan, tanpa melihat lagi apakah hal itu sahih (benar) atau fasid (rosak).

Aqidah adalah bentuk jamak dari kata Aqaid, adalah beberapa perkara yang
wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi
keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Aqidah adalah
sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan
akal, wahyu (yang didengar) dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan dalam hati,
dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Aqidah dalam Al-Qur'an dapat di jabarkan dalam surat (Al-Maidah, 5:15-16) yg
berbunyi "Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab
yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang
mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus"

"Dan agar orang-orang yg telah diberi ilmu meyakini bahwasannya Al-Qur'an
itulah yg hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya
dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yg beriman
kepada jalan yang lurus." (Al-Haj 22:54)

Sumber artikel :
http://ms.wikipedia.org/wiki/Aqidah
http://fisika-uhamka.weebly.com/10/post/2011/04/pengertian-aqidah.html

Pengertian Globalisasi

Posted: 10 Feb 2012 09:04 PM PST

Pengertian Globalisasi - Pengertian globalisasi apa itu pengertian globalisasi definisi atau pengertian globalisasi adalah globalisasi pengertian globalisasi adalah menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya.

Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir.

Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.

Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.

Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.

Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.

Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.

Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

Pengertian Islam Liberal

Posted: 10 Feb 2012 08:38 PM PST

Pengertian Islam Liberal - Pengertian islam liberal apa itu pengertian islam liberal definisi atau pengertian islam liberal adalah islam liberal pengertian islam liberal adalah Sejak didirikan pada 8 Maret 2001, kelompok diskusi (Milis) Islam Liberal (islamliberal@yahoogroups.com) telah mendiskusikan berbagai hal mengenai Islam, negara, dan isu-isu kemasyarakatan. Kelompok diskusi ini diikuti oleh lebih dari 200 anggota, termasuk para penulis, intelektual, dan pengamat politik seperti Taufik Adnan Amal, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Eep Saifulloh Fatah, Hadimulyo, Ulil Abshar-Abdalla, Saiful Mujani, Hamid Basyaib, dan Ade Armando. Dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie, diskusi berikut mengangkat isu seputar definisi dan sikap Islam Liberal yang merupakan salah satu tema awal yang muncul dalam Milis tersebut.

Peserta Diskusi: AE Priyono, Luthfi Assyaukanie, Saiful Mujani, Putut Widjanarko, Taufik Adnan Amal, Zainal Abidin.

Luthfi Assyaukanie:

Tampaknya diskusi kita semakin memanas. Agar lebih fokus, saya kira, kita harus mulai menentukan tema-tema yang akan kita diskusikan. Saya kira pembagian Saiful yang katanya sembarangan itu sudah benar dan tema-tema yang diusulkan Hamid juga sangat bagus untuk dipertimbangkan. Secara garis besar, tema-tema Islam Liberal itu adalah sebagai berikut:

Pertama, dalam kelompok Teologis ada tiga tema besar:

    Tentang Islam (definisi, signifikansi, peran, tokoh, pengaruh, dll).
    Tentang Alquran (wahyu, sejarah, perkembangan, pengaruh, perbandingan dengan kitab suci lain, literatur, dll).
    Tentang Doktrin-doktrin Islam (shalat, zakat, haji, perbuatan baik, dll).

Kedua, dalam kelompok Sosiologis juga ada tiga tema utama:

    Sistem Hukum
    Sistem Ekonomi
    Sistem Budaya

    Konsep Negara dalam Islam
    Sistem Politik (syura, demokrasi, teokrasi, dll)

Nah, anggap saja tema-tema itu usulan mentah yang masih terbuka untuk penambahan dan pengurangan. Untuk itu, saya persilahkan Anda semua memberikan masukan lagi.

Saiful Mujani:

Saya ingin mengomentari Sukidi dulu.

Mungkin kita harus membaca Farid Esack dalam konteks perjuangan melawan apartheid. Jargon "pembebasan" menjadi relevan dalam konteks ini. Ketika kita memulai demokrasi, jargonnya barangkali bukan pembebasan dalam pengertian itu, tapi pembebasan dari prilaku intolerant dan distrust sesama warga. Bagaimanapun demokrasi punya arah yang berbeda dari revolusi sosial: demokrasi tidak berpretensi untuk membalikkan masyarakat menurut utopia class-less society.

Bahkan demokrasi sering diidentikkan dengan kehadiran kelas kapitalis yang kuat. Setengah orang percaya bahwa demokrasi tanpa kelas ini tidak mungkin. Dalam konteks Islam liberal untuk demokrasi, yang dibutuhkan adalah pemikiran, sikap, dan praktek toleran dan partisipasi lintas kelas dan lintas pengelompokkan primordial. Demokrasi bukan proyek orang radikal, orang kiri, tapi orang-orang moderat, atau barangkali orang-orang konservatif dalam pengertian tertentu. Memilih demokrasi bagi saya adalah melupakan agenda revolusi sosial.

Putut Widjanarko:

Saya baca lagi sekilas pengantar Kurzman dalam Liberal Islam-nya. Berikut beberapa catatan saya:

Kurzman menjelaskan ada tiga "tradition"—yang meskipun bisa dibedakan tetapi tidak selalu mutually exclisive, bisa overlap, saling berkait, dan bahkan masing-masing tidak internally homogen. Tradisi pertama adalah, menurutnya, customary Islam—Islam yang dikarakterisasi dengan adanya kombinasi praktik setempat-lokal. Tradisi kedua, yang menjadi alternatif paling umum terhadap customary Islam, adalah Islam revivalis—sering juga disebut Islamis, fundamentalis, atau (sic!) Wahabis.

Banyak analisis, katanya, berhenti pada dua jenis Islam ini saja, dan mengabaikan tradisi ketiga yaitu Liberal Islam. Bersama Islam revivalis, Liberal Islam sama-sama mendefinisikan dirinya kontras terhadap customary Islam. Yet, Kurzman wrote, Libreal Islam calls upon the past in the name of modernity, while revivalist (perhatikan bedanya—pw) might be said to call upon modernity in the name of the past.

Ada beberapa versi Liberal Islam (nanti akan disebutkan), tapi hal utama adalah kritiknya terhadap baik customary Islam maupun revivalis apa yang sering diistilahkan oleh Liberal Islam sebagai "backwwardness" yanng mengakibatkan Islam tidak menikmati buah modernitas.

Sebelum abad ke-19, perbedaan revivalis dan liberalis (sebut saja begitu—pw) belum jelas. Tapi setelah itu batasnya mulai jelas, baik pada tataran intelektual maupun institusional. Pada tataran intelektual, liberalis mencoba memisahkan ijtihad dengan taklid, akal dengan otoritas. Tokoh utamanya, tentu saja, al-Afghani, Ahmad Khan, dan 'Abduh. Pada tataran institusional, terdapat tiga arus besar. Pertama, pembaruan institusi pendidikan di banyak negara (di Indonesia oleh KH Ahmad Dahlan dan Ahmad Soorkati). Institusi kedua adalah jurnalisme—yaitu maraknya berkala (periodicals) di banyak negara yang tentu saja topnya adalah al-Urwatsul Wutsqa (Abduh), al-Manar (Rasyid Ridha). Di Indonesia ada al-Munir al-Manar (Abdullah Ahmad). Institusi ketiga adalah jaringan intelektual internasional, utamanya berpusat pada Abduh di Mesir. Ahmad Dahlan, Ahmad Khatib, belajar di sana—seperti banyak intelektual dari Afrika, Anak Benua dll. Pusat kedua adalah di Istanbul, yang kemudian juga menyebrkan intelektual ke beberapa negara, hingga sampai Rusia.

Lalu Kurzman memilihkan beberapa karya dari kaum liberalis dalam tema-tema wacana liberal, yaitu: a. Against Theocracy (a.l. Taleghani dan Al-Asmawi) ; b. Democracy (a.l. Natsir, Mehdi Bazargan, Ghannouchi); c. Rights for Women (a.l. Benazir Bhutto, Fatima Mernisi, Amina Wadud-Muhsin); d. Rights of non-Muslim (a.l. Chandra Muzaffar, Talbi), e. Freedom of Thought (Syariati, Qardawi, Arkoun, Soroush, An-Naim), dan f. Progress (Iqbal, Cak Nur, Mahmud Thaha, Fazlur Raman, Shabbir Akhtar). Mudah-mudahan memberi perspektif.

AE Priyono:

Sebelum secara lebih serius nanti saya bikin komentar dan respon terhadap berbagai gagasan "Islam Liberal" yang selama ini hanya berada di bawah tanah itu, saya menyambut gembira dan menaruh harapan pada forum ini. Ya ... menaruh harapan adalah sebuah istilah yang di dalamnya juga terkandung makna "menyimpan keraguan." Saya menaruh harapan agar forum ini bisa melanjutkan perdebatan-perdebatan lama yang sering sangat romantis itu, tetapi juga menyimpan keraguan karena bisa jadi forum ini hanya akan menjadi semacam diskursus elitis—persis seperti yang dialami forum-forum "liberal" lainnya.

Bagi saya, sekarang ini agama apapun, ideologi apapun, aliran pemikiran apapun, mazhab politik apapun, sedang menghadapi kenyataan yang sangat keras di Indonesia. Kenyataan yang keras-berdarah-yang-menyangkut-hidup-mati-sebagian-besar-orang, di tengah-tengah kebangkrutan kehidupan kolektif, seharusnya melahirkan sejenis kesadaran yang juga "keras" —yang menuntut "lebih banyak amal daripada iman," "aksi daripada sekadar refleksi."

Apakah Islam Liberal punya apresiasi pada jenis kesadaran yang berorientasi aksi itu?

Kritik-diri sebenarnya sudah cukup banyak memberi kita ancang-ancang untuk reorientasi pada tumbuhnya sejenis kesadaran agama yang sama sekali baru. Toh religious-appeal yang selama ini diletakkan pada dataran etis sudah lama menjadi ampang dan kehilangan elan-vital. Hanya terkadang saja ia menyala lagi pada tingkat personal dan spiritual. Tapi apa makna percikan rohaniah agama jika ia hanya berada pada kesadaran subjektif? Bukankah itu hanya sejenis kepalsuan, sesuatu yang hanya maya, di hadapan kenyataan kehidupan sehari-hari masyarakat kita yang sedang meluncur ke titik nadir ini?

Saya menginginkan "Islam Liberal" menyediakan refleksi empiris untuk dibangunnya sebuah corak moralitas sekular yang lebih dekat dan lebih punya apresiasi pada realitas. Karena sebenarnya di situlah agama mempunyai peranannya yang otentik.

Zainal Abidin:

Saya punya tiga pertanyaan; satu menanggapi Hamid, satu Denny, satu umum.

Pertama, sejak hari pertama forum ini dimulai, saya menyimpan pertanyaan soal istilah "Islam Liberal" ini: apa dasar kategorisasi ini? apa yang membedakannya dari kategori2 "Islam X" lain? (Di halaman pertama makalahnya Luthfi menyebut sekian banyak "Islam X"—dan juga membandingkannya dengan "Kristen X".) Belum sempat bertanya, ketika kembali ke dunia maya kemarin sore, saya menemukan sekian banyak posting soal istilah. Yang paling eksplisit adalah Hamid (dan disetujui Luthfi), yang menyebut kata sifat "progresif, pluralis, dinamis, modern, dan tentu saja demokratis" untuk mencirikan IL, sebagai perimbangan untuk yang "konservatif dan fundamentalis". Seperti dikhawatirkan Hamid sendiri, saya kira ini masih terlalu longgar. It doesn't single out the 'liberal Islam'—setidaknya nama2 yang disebut di makalah Luthfi.

Saya tak tahu bagaimana persisnya Kurzman mencirikan grup ini, tapi melihat nama2 yang muncul di bukunya, tampaknya dia juga terlalu longgar. Mernissi duduk bersanding dengan Qardawi, juga Arkoun; dari Indonesia ada Nurcholish ada juga Natsir; ada pula Iqbal dan Shabir Akhtar. Saya jadi bingung: apa common denominator orang2 yang sepintas tampak amat berbeda itu. "Liberal Islam calls upon the past in the name of modernity"—menurut ringkasan Putut—masih kurang spesifik. Atau tidak? Apa memang kategori ini amat longgar?

Ketika baru baca makalah Luthfi, saya berpikir para Islam Liberal itu dibedakan dari sikapnya terhadap tradisi, misalnya, atau dari metode tafsir mereka, atau dari segi agenda. Bandingkan dengan, misalnya, Fazlur Rahman yang punya pembagian revivalis, modernis, lalu dia memposisikan dirinya sebagai neo-modernis. Fazlur Rahman sendiri saya kira punya metode yang (cukup) spesifik soal bagaimana kita memperlakukan Alquran dan tradisi, juga punya agenda2 (cukup) jelas. Bisakah kita bandingkan "neo-modernisme" dengan "islam liberal" ala Kurzman (yang memasukkan Rahman dalam kategori ini) Kategori Kurzman tampaknya berpusat pada agenda (against theocracy, democracy, rights of non-muslims, dsb)—kalau begitu, apa dasar seleksi agenda itu? Mengapa sebuah agenda menjadikan suatu pemikran "liberal", yang lain tidak?

Atau, mungkin saya keliru sama sekali? Bahwa kategori ini punya maksud lain—tapi apa itu? Karena sebutan "progresif, dinamis, kritis, demokratis" biasanya berkonotasi positif, jangan-jangan ini cuma buat "keren-kerenan" menyebut diri sendiri—plus, saya kesulitan membayangkan org yang menolak disebut dengan kata2 keren itu. Sebaliknya, kata "konservatif dan fundamentalis", rasanya lebih sering dipakai dengan nada pejoratif. Jadi, pertanyaan saya mungkin bisa dirumuskan kembali spt ini: apakah dasar yang baik untuk menyebut sebuah kelompok/pemikiran sebagai "liberal", atau "progresif, dinamis, dsb"? Agenda, metode, atau yang lain? (Bisa jadi pertanyan2 ini karena kenaifan saya saja, yang tak cukup punya ilmu kategorisasi: apa yang mesti diperhatikan ketika kita menciptakan sebuah kategori? bagaimana cara mengkrtitik kategori? dsb).

Kedua, ada satu hal penting yang mungkin berhubungan dengan poin di atas, mungkin juga tidak. Berdasarkan hasil cut and paste yang semoga tak menghilangkan konteks, Denny menulis begini: "yang akan kita perjuangkan bukan interpretasi Islam yang lain, tapi interpretasi Islam yang liberal", yaitu, di posting lain: "interpretasi Islam yang mendukung atau paralel dengan civic culture (pro-pluralisme, equal opportunity, moderasi, trust, tolerance, memiliki sense of community yang nasional)."  Kalau begitu, tolok ukurnya adalah "civic culture" itu—ini mungkin bagian yang disebut sebagai kultur liberal itu.

Pertanyaan saya, di mana Islamnya? apa fungsi Islam dalam islam liberal—kasarnya: kesannya kok islamnya plastis, bisa dibelokkan ke arah preferensi penafsir? Kalau dalam penulisan sejarah kecenderungan presentisme sering dikritik karena menggunakan tolok ukur masa ini untuk memahami masa lalu, saya lihat kecenderungan semacam itu di tulisan Denny dalam bentuk lain: kita yakin dulu dengan ideal-ideal civic culture, lalu kita baca Islam (lebih tepatnya, mungkin: Alquran) dalam konteks ideal2 itu. Tapi kalau manusia Islam liberal berdebat dengan manusia islam non-liberal (yang pasti juga punya bacaan lain terhadap Islam/Alquran), apa tolok ukurnya? Apa argumen untuk menyatakan tafsirku lebih tepat/bagus dibanding tafsirmu. Apakah, ultimately, mungkin, argumen yang bisa diberikan adalah kebagusan2 civic culture itu? Itu sebabnya saya bertanya: Lalu, apa fungsi Islamnya? Kalau al-Quran berbicara bahwa Islam adalah rahmat untuk alam semesta, di mana letak rahmatnya? Dalam penafsiran yang menjadikannya sejalan dengan civic culture itu? Kok rasanya janggal ya: "penafsiran yang menjadikannya sejalan dengan ..."?

Untuk kejernihan, perlu saya tekankan bahwa saya tak mempertanyakan keunggulan civic culture; tapi ini soal metode penafsiran. Dalam konteks inilah di atas saya tulis bahwa neo-modernisme Rahman dalam hal ini jauh lebih jelas dari "Islam liberal", yang makna istilahnya masih kita perdebatkan. (Saya tak ingin membandingkan/mempertentangkan substansi gagasan keduanya; ini pernyataan dalam konteks kejelasan kategorisasi). Kemungkinan saya salah memahami tulisan Denny, tapi semoga dengan ini kemungkinan salahpaham bisa diluruskan.

Ketiga, barusan di mobil saya dengar lagu Whitney Houston dari soundtrack Bodyanguard: Jesus loves me/ Yes, I know/ For the bible tells me so…. Lalu saya berpikir: kalau paralel dengan islam liberal ada kristen liberal, apakah Whitney (yang gaya hidupnya konon "relatif liberal") bisa dianggap "Kristen Liberal"?

Saiful Mujani:

Karena keterbatasan pengetahuan saya, saya merasa selama ini (setidaknya 20 tahun terakhir) diskusi kita tentang Islam, termasuk islam liberal ini, belum banyak mengalami kemajuan, termasuk untuk pertanyaan-pertanyaan dasar seperti yang dikemukakan Zen (Zainal Abidin). Diskusi memang tidak boleh selesai, tapi merasa tidak mengalami kemajuan adalah perasaan yang menggaggu. Perasaan bosan kemudian muncul, dan mencari kompensasi, melewatkan umur yang tersisa dengan urusan-urusan remeh temeh barangkali sehingga pertanyaan-pertanyaan besar terlupakan atau dilupakan.

Neo-modernisme Rahman, ya kembali mengingkatkan diskusi kita 15 tahun lalu. Kategori atau konsep ini jelas? Ya, cukup jelas kalau dibanding "Islam liberal" barangkali. Rahman telah merumuskan dasar-dasar metodologi neo-modernisme: yakni "bolak-balik" antara modernitas, tradisi, dan Alquran. Tapi yang cukup jelas ini pun masih menyisakan pertanyaan besar yang bagi saya merupakan salah satu sumber penting dari munculnya ketidak-jelasan-ketidak-jelasan baru seperti dengan istilah "Islam liberal" itu. Atau memang, barangkali akan ada yang berpendapat, bahwa ketidakjelasan itu merupakan bagian dari kita. Dan karena itu tidak bisa dihindarkan. Oke, tapi saya tetap punya hasrat terhadap kejelasan walapun tetap, barangkali, tidak akan mencapainya.

Ketidakjelasan dari Rahman yang saya maksud tetap berkisar pada masalah apakah kita harus membaca tradisi dari pengalaman modern, atau sebaliknya. Rahman mencoba mencari "jalan tengah" dengan metodenya itu, dan hasilnya tertuang barangkali dalam Major Themes of the Qur'an. Tentang ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa pada dasarnya Rahman "mengumpulkan" tradisi dan ayat-ayat Alquran dan membacanya dengan semangat modernitas. Kesimpulan ini bisa salah.

Ingin saya katakan bahwa dalam hal ini Rahman tidak salah, tapi jangan bilang bahwa neo-modernisme Islam adalah kritik terhadap modernisme dan telah melahirkan kategori yang lebih baik secara metodologis dan substantif. Untuk strategi dakwah dan berretorika, untuk mobilisasi massa, atau bahkan untuk jualan di lingkungan massa yang punya attachment kuat terhadap ayat-ayat, hadith-hadith, dan pemikiran-pemikiran para ulama klasik, metode Rahman barangkali sangat membantu.

Jadi, kalau meneruskan pertanyaan Zen, apa Islam-nya di situ? Ya, bahasa, kalau bukan bahasa memangnya apa lagi? Tidak ada "realitas" di luar bahasa! Tapi sebagai seorang modernis/neo-modernis Rahman tentu percaya yang dikerjakannya bukan hanya masalah bahasa. Lebih dari itu. Apa itu? Ya agenda-agenda modernitas: kemanusiaan, kebebasan, bla-bla ... Islam liberal pada tingkat teologis/filosofis barangkali sangat beragam dan tidak ada elemen-elemen yang baru:

1.  Skeptis terhadap dunia di luar dunia material. Tuhan yang personal, yang berjenis kelamin, yang berkeinginan mengganjar dan menyiksa, bla-bla ... diragukan keberadaannya. Apakah itu Tuhan, dan apakah ia ada, selain materi, adalah pertanyaan-pertanyaan diluar kapasitas manusia untuk menjawabnya .... Karena itu lebih baik membisu ... skeptik atau agnostik .... Dari sini, wahyu dari Tuhan bagi manusia secara langsung diragukan.

2.  Apa artinya "Islam" dalam "Islam liberal" kalau punya pandangan filosofs semacam ini? "Islam liberal" dalam pengertian dasar seperti ini adalah skeptisisme atau agnostisime yang hidup dalam masyarakat Islam. Seorang leberal Islam ini adalah seorang agnostik atau skeptik tapi ingin tetap diakui sebagai bagian dari komunitas di mana ia hidup, yakni komunitas Islam ... Islam menjadi penting sebagai label untuk menyiasati social punishment, bahakan untuk menciptakan integrasi sosial karena pada dasarnya siapapun, termasuk yang skeptis bahkan yang ateis sekalipun, engga sanggup hidup kesepian sendirian ... Salat, puasa, ngaji, haji, dll., dilakukan bukan untuk Tuhan, tapi untuk masyarakat, untuk integrasi sosial ... Jadi, Islam lebih menyangkut bahasa dan kenyataan sosial ... Saya ingin katakan secara teologis/filosofis, Islam liberal dapat mengakomodasi isan-insan skeptik ini.

3.  Tapi skeptisisme dicoba dipecahkan dengan cara lain, yakni mistisisme atau tasawuf. Hasilnya adalah pengalaman spiritual yang personal sifatnya dengan Yang Ada, atau Tuhan. Karena pengalaman ini pribadi, di mana orang lain tidak mengalaminya, maka mistisisme bisa menjadi landasan bagi Islam liberal, yakni menjadikan urusan agama sebagai urusan pribadi saja. Tapi pengalaman mistik ini bisa menggoda kita jath ke dalam bentuk agama sebagai kekuatan politik: ketika pengalaman spiritual diwartakan kepada orang lain, dan orang lain ini percaya, dan dari sini komunitas Islam yang berpatokkan pada pengalaman keagamaan personal ini bisa tumbuh. Pengikut yang tidak punya pengalaman mistik membesar melalui proses kompleks.

Dari sini, berislam bukan saja berarti berkomuniti tapi juga bisa berpolitik. Fundamentalisme bisa tumbuh dari sini. Seorang mistis yang berisam liberal tidak akan punya pengikut karena akan mencegah dan tidak akan mewartakan kepada orang lain pengalaman mistiknya itu.

Luthfi Assyaukanie:

Definisi memang penting, seperti yang pernah dikatakan Ibn Sina: "Tanpa definisi, kita tak akan pernah bisa sampai kepada konsep." Karena itu, definisi, menurut filsuf Iran itu, sama pentingnya dengan silogisme (baca; logika berpikir yang benar) bagi setiap proposisi yang kita buat. Tapi, pandangan Ibn Sina itu bukan tanpa penolakan. Ibn Taymiyyah adalah orang yang paling gigih menolak definisi sebagai satu-satunya cara untuk sampai ke pengetahuan tentang konsep. Baginya, ada banyak konsep atau istilah yang kita pahami, sepakati, dan rasakan bersama, tanpa harus melewati definisi-definisi yang ketat.

Tentu saja, saya tidak ingin mengatakan bahwa definisi tidak penting. Tapi, saya ingin menggunakan penolakan Ibn Taymiyyah terhadap definisi itu, untuk menyelamatkan istilah "Islam Liberal" dan segala cognate-nya yang saya pergunakan dalam forum ini. Seperti yang pernah saya singgung, Anda bisa menggunakan istilah apa saja yang bisa mewakili makna dan maksud Islam Liberal. Kenapa? Karena untuk menghindari problem definisi yang sangat menjengkelkan itu. Saya melihat ada substansi persoalan yang lebih penting dari sekadar definisi.

Kalau kawan-kawan mencermati makalah saya, saya sebetulnya tidak terpaku kepada istilah. Penggunaan istilah itu, seperti dikatakan Fyzee, hanyalah nomenklatur untuk memudahkan kita semua, merujuk sebuah fenomena Islam yang berkembang sejak era kebangkitan—abad ke-19—(kendati akar-akarnya sebetulnya telah dimulai jauh sebelum itu). Istilah Islam Liberal mungkin sama dengan istilah "kiri" dalam wacana pemikiran Barat modern. Kata Anthony Giddens, istilah itu sulit diuraikan, tapi juga sulit untuk ditolak, karena hingga kini, masih ada saja yang menggunakannya. Karena itu pula, dalam makalah itu, saya menggunakan istilah "kiri" buat murid-muridnya Muhammad Abduh yang progresif, pluralis, dan—too some extent—sekular. Dan secara paralel, saya menganggap yang "kiri" itu sebagai yang "liberal" dan yang "kanan" sebagai yang "konservatif" (dalam pemahaman keagamaan) dan yang "fundamentalis" (dalam sikap politik).

Tadinya, saya mau taken for granted saja agar kecemasan yang seperti Saiful perlihatkan—kita selalu berkutat pada level kulit dan tidak pernah ke substansi—tidak terjadi. Tapi, hal itu ternyata sulit dilakukan (atau ini karena kelemahan saya semata untuk menjelaskan konsep ini kepada orang-orang yang sangat concern dengan definisi). Karena itu pula, agaknya, ajakan saya untuk lebih maju sedikit, mendiskusikan tema-tema Islam Liberal, kurang mendapat tanggapan.

Zainal Abidin:

Kalau saya menuntut kejelasan soal istilah, itu semata2 dalam fungsinya untuk memaksa menjernihkan pemikiran kita; konvensional saja; tak perlu kita bersiteguh pada definisi; definition is negotiable. Sampai di sini, filosof analitik yang paling alergi dengan definisi pun akan menerimanya. Saya berbagi concern dengan mereka bahwa kecerobohan berbicara sering menjadikan no-problem menjadi metaphysical problem yang insoluble. (Sekali lagi, ini tak perlu berimplikasi pada keyakinan bahwa ada sesuatu yang disebut "meaning" yang fixed, or something like that; that's a different subject.) Definisi sekadar berarti kesepakatan awal sebagai titik berangkat pembicaraan kita.

Saya juga tak sepakat kalau pembicaraan soal apa yang kita maksudkan dengan "Islam liberal" hanya menyangkut kulit, sebagaimana dibuktikan oleh respon Saiful yang amat bagus. Saya hanya ingin kita tak terlalu cepat take for granted asumsi2 kita, dan membayangkan bahwa kita share itu semua. Respon Saiful saya kira menohok amat tajam ke salah satu akar penting islam liberal. Karena itu saya ingin menjawab kebaikan dan kelugasan Saiful dengan respons yang serius juga, setelah ini. Sambil agak malu-malu menyebut nama Wittgenstein, saya ingin sedikit

mengutip pandangannya yang inspiring buat saya. Katanya, amat banyak persoalan yang tampak insoluble karena akarnya ada pada sesuatu yang taken for granted (yang tampak common sense saja), ada pada level sebelum sesuatu itu menjadi teori, dan lalu menjadi problem. Karena itu yang perlu dilakukan bukanlah solve the problem,  tapi dissolve it. Itulah yang ingin saya lakukan dg pertanyaan-pertanyaan saya sebelum ini: bukan untuk dissolve istilah islam liberal, tapi mencari akarnya dulu.

Soal Rahman, Saya punya kritik yang persis sama terhadap Rahman. Salah satu cermin bagus ketakjelasan dalam kejelasannya adalah ketika dia mencoba mempertahankan posisi "objectivity school of hermeneutics" dia dari kritik Gadamer. (Kalau nggak salah di pengantar Islam and Modernity). Yang saya pujikan dari dia, kalau saya masih ingat pandangannya dengan cukup akurat, dia mengakui bahwa kritik Gadamer bisa menggoyang dia, tapi seakan-akan dia bilang, ... Objektifitas adalah ideal yang mungkin tak tercapai, tapi kita mesti berjalan terus, bahkan mungkin sekalipun dengan resiko bahwa perjalanan kita menjauh dari the truth, yang kita tak tahu persis. Setidaknya Rahman punya titik berangkat yang amat bagus: punya metode dan mengakui keterbatasannya. Kalau saja dia punya murid-murid cemerlang yang mau meneruskan jalan yang sudah dia rintis, jalan yang pasti panjang dan berkelok-kelok, saya yakin akan ada kemajuan cukup berarti. Sayangnya, sejauh yang saya tahu, tak ada murid-murid itu.

Tentang sikap agnostik, menurut saya, sikap agnostik adalah sikap yang "secara ilmiah" (maksudnya sejauh menyangkut evidence yang ada) paling dapat dipertanggungjawabkan, karena burden of proof yang dipikulnya tak terlalu berat—dan pada gilirannya ini memang karena muatan klaimnya paling sedikit. Karena itu jugalah, seharusnya, sekali lagi menurut saya, this should be the last resort (as if there is such a thing in an intellectual journey!). Maksud saya, inilah poin yang pasti tak kontroversial: pekerjaan intelektual adalah pekerjaan yang tak pernah selesai, dengan reward yang tak selalu jelas, sehingga kemungkinan capek di tengah jalan amat besar. Buat saya, mau menjadi agnostis atau tidak, ujung-ujungnya tetap sama: tak pernah selesai.

Believer ataupun agnostis saya kira bukan "status" yang statis; bukan terminal intelektual akhir. Sebagaimana seorang believer, tugas seorang agnostik berikutnya adalah konsisten—dan ini yang paling sulit. Maksud saya, konsisten dengan agnostisismenya; menghindari klaim-klaim yang terlalu bermuatan tinggi.

Satu contoh bagus untuk agnostik konsisten, menurut saya, adalah Camus—yang dengan agnostisismenya tak tergoda untuk bikin klaim2 besar, dan dengan begitu sekalipun dia menunjukkan masih bisa hidup dengan optimisme tinggi, dan dengan intellectual integrity. Kekaguman saya terhadap dia, sejak karya pertamanya yang saya baca, "Sampar", hingga kini tak berkurang.

Soal intellectual integrity berhubungan dg point saya selanjutnya, tentang fungsi Islam yang amat minimal sekali, yaitu untuk menghindari social punishment. Saya tak mengingkari bahwa social punishment bisa amat berat (ingat kaus Nasr Hamid Abu Zaid!). Tapi, tak salahkan kalau saya katakan dengan lugas (dan semoga tak terkesan kasar), bahwa fungsi Islam di sini menjadi hanya sebagai lip service? Dan jika keislaman itu lalu digunakan sekadar sebagai sarana social acceptance, tidakkah ini juga jadi manipulatif? Why Islam at all? Tidakkah kita bisa hidup survive, dengan amat terhormat, dengan intellectual integrity, tanpa Islam sekali pun? Jangankan cuma survive, seorang ulama berjenggot dan berjubah seperti Muthahhari bahkan berani "menjamin" seseorang yang skeptis masuk surga—hypothetically tentunya—asalkan kejujuran intelektualnya terjaga.

Kalau sekadar mengakomodasi insan skeptik, saya kira semestinya tak ada problem besar. Satu-satunya jenis manusia yang tak dapat diterima Islam, dalam pemahaman saya, hanyalah yang "kafir"—dan ini tentu tak sekadar berarti non-muslim, tapi menurut etimologinya (kafara=to cover) berarti menutupi/mengingkari sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui. Dan mustahil bagi seorang agnostis/skeptik untuk menjadi "kafir" karena justru yang bisa ditutupi itu virtually tak ada. Dengan pemahaman seperti ini, sebetulnya mengkafirkan orang di depan publik adalah contradictio in terminis—karena kategori ini adalah kategori batiniah, fully private. Tanpa pengetahuan pasti tentang sejarahnya, saya nyaris yakin istilah takfir/pengkafiran muncul dlm sejarah Islam sepenuhnya karena alasan politis.

Kesimpulannya, menurut saya: "kafir" bukanlah kategori legal, tapi lebih merupakan kategori etis/moral. Jadi, jangankan skeptis/agnostis, "kafir" pun effectively tak akan membawa pada excommunication, alias kesepian, sebagai social punishment. Saya bahkan membayangkan seorang seperti al-Ghazali (yang dalam bayangan kita mungkin hampir pasti tak dapat digolongkan Islamlib, dan yang di beberapa komunitas karyanya dihapal di luar kepala sebagai semacam jimat) ketika pada umurn 40 tahun meninggalkan kota dan hidup menyendiri, bahwa dia mengalami kegelisahan dan kesumpekan yang luar biasa yang menyebabkannya skeptis pada Islam yang dikenalnya. So, it's really not something new. Menarik untuk mengkaitkan ini dengan analisis Saiful soal mistisisme.

Lalu, kalau kembali ke persoalan IsLib sebagai kategori, lepas dari kesetujuan/ketaksetujuan terhadap pemahaman tentang Islam yang amat minimal ini, saya tak yakin orang-orang yang digolongkan dalam Islamlib (gampangannya, ambil saja dari kategori Kurzman) menganut pemahaman seperti ini. Misalnya saja, Iqbal, juga Rahman yang mengkritiknya, atau bahkan Qardhawi, saya tak yakin ada di sini. Soroush sekalipun—yang dengannya saya pernah ngobrol dua kali, sekali di Kuala Lumpur, sekali di Teheran—sejauh pengamatan saya tak menunjukkan indikasi pemahaman spt ini.

Taufik Adnan Amal:

Saya sepakat dengan Luthfi, istilah "Islam liberal" tidak perlu didefinisikan. Kalau dibatasi, tentunya tidak liberal lagi. Jadi, maknanya biar berkembang secara liberal di kepala peserta diskusi. Istilah "Islam Liberal" yang diperkenalkan Fyzee – lihat karyanya, A Modern Approach to Islam (London: Asia Pub. House, 1963)—terkait dengan upayanya "to understand it (Islam) for today, not as it was in the past, nor as it may be in the future" (p.110). Fyzee mengajukan skema penafsiran Islam liberal sebagai berikut:

(i) Study of History of Religions

(ii) Comparative Religion of the Semitic Races

(iii) Study of Semitic languages and philology

(iv) Separation of Law and Religion

(v) Re-examination of shari'a and kalam

(vi) Reinterpretation of cosmology and scientificfacts (pp.95 ff., berikut penjelasannya).

Secara metodologis, gagasan Fyzee di atas dirumuskan secara lebih sistematis oleh Fazlur Rahman dalam metode tafsirnya (Saiful akan curiga dengan preposisi ini), sekalipun—dari sisi gagasan—Fyzee terlihat lebih kaya, karena memasukkan kajian-kajian terhadap sejarah agama-agama, perbandingan agama-agama Semit, dan bahasa-bahasa Semit serta filologinya. Agenda Fyzee, tentu saja, masih relevan dan mesti dikembangkan, ditambah dengan agenda-agenda yang dirumuskan Luthfi serta peserta diskusi lainnya. Tetapi, saya agak alergi dengan pendekatan-pendekatan terhadap Alquran yang selama ini memperlakukan mushaf yang ada di tangan kita sekarang sebagai satu-satunya mushaf (textus receptus), atau—meminjam istilah
Arkoun—sebagai Korpus Resmi Tertutup. Islam liberal hendaknya bisa mempertanyakan premis semacam itu.

Saiful Mujani:

Saya tambahkan sedikit supaya tidak salah faham. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang dalam Islam liberal yang skeptik atau agnostik sebagai orang yang tidak punya integritas intelektual. Kalaupun Anda benar, maka bagi saya integritas intelektual bukan hal yang utama dalam berislam liberal. Yang utama adalah "kelangsungan hidup." Jadi lebih dasar dan lebih nyata. Orang tidak mungkin bisa hidup tanpa komunitas dengan kompleksitas norma-norma yang berjalan di dalamnya di samping mengikuti kaidah-kaidah fisik, termasuk nafsu-nafsu manusiawi.

Misalnya, saya yang lahir dengan nama "saiful" dari keluarga santri tidak mungkin bisa survive secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuan saya bila saya mengingkari latar belakang saya ini ketika saya kembali ke dalam komunitas saya (santri, atau Islam). Walaupun misalnya saya seorang agnostik, ragu apa artinya salat, puasa, dll., saya akan berusaha melakukannya ketika saya berada dalam komunitas itu demi survival. Ketika saya misalnya berada dalam komunitas lain (katakanlah di Amerika) signifikansi salat dan puasa secara sosial dan bahkan politik tidak ada, sehingga tidak melaksanakannya juga tidak apa-apa.

Lain halnya kalau saya kembali ke kampung saya di Banten, apalagi kalau masuk partai politik Islam. Masuk partai politik sekuler pun, demi political survival, saya akan menjalankannya sebisa saya supaya terlihat baik oleh massa pendukung yang mayoritas taat beragama itu. Kelangsungan hidup bagi rata-rata jamaah Islam liberal ini, saya kira, bukan sekedar bisa makan, tapi juga karir intelektual, akademik, politik, dll.

Jadi, Islam liberal itu adalah Islam boong-boongan? Munafik? Saya tidak tahu. Kalau mau disebut munafik, maka yang tidak munafik itu siapa? Kalau ukurannya intellectual integrity, maka saya berislam bukan karena intellectual integrity itu tapi karena percaya saja: Saya tidak tahu apakah Tuhan yang personal yang memberi wahyu kepada nabi itu ada atau tidak. Saya juga tidak tahu apakah surga dan neraka yang kita "tahu" lewat kisah-kisah yang kita serap dari kecil itu ada atau tidak. Tapi saya percaya pada semua itu. Jadi, bukan "tahu" tapi "percaya." Maka kalau intellectual integrity ukurannya, barangkali saya sebagai seorang Muslim adalah seorang yang munafik.

Berislam liberal bagi saya barangkali bukan saja menyangkut survival tapi juga masalah social intellegence, yakni kemampuan melakukan penyesuaian sesuai dengan lingkungan sosialnya. Kalau Nirwan mengatakan bahwa Islam itu rahmat bagi semua, maka menempelnya Islam dalam "Islam liberal" sehingga membuat orang yang berada di dalamnya survive dalam komunitas Islam (apakah itu sebagai intelektual, akademisi, politisi, dll.) menunjukkan makna dari ungkapan itu.

Zainal Abidin:

"The suffocating form of Islam" adalah istilah yang dipakai seorang wartawan dalam pemberitaan tentang Taliban beberapa waktu lalu. Sebuah istilah yang betul-betul tajam (menurut kamus, salah satu arti kata "suffocating" adalah "stuffy", menghimpit!). Membaca komentar Saiful tentang keislaman sebagai sarana survival, saya langsung teringat istilah ini. Saya berpikir, survival dalam bentuk, istilah Saiful, "Islam bo'ongan" jelas akan jadi urusan utama dan pertama dalam komunitas dengan "a suffocating form of Islam." Sebuah komunitas yang menghimpit, sumpek dan bikin sumpek, atas nama Islam. Bisa jadi kesan yang saya tangkap salah; istilah ini mungkin terlalu dramatis untuk itu.

Bagaimana pun, setelah sekian banyak episode menyedihkan yang melibatkan Islam di Indonesia sekali pun, saya tetap merasa komunitas kita "relatif liberal", atau, minimal, mengakomodasi Islam liberal seperti yang dideskripsikan Saiful. Membandingkan dengan Afganistan Taliban mungkin terlalu jauh; tapi kita bisa membandingkan dengan Malaysia, yang sembilan biji Sultannya hari-hari ini masih bisa berkumpul dan memutuskan apakah sebuah partai berhak memakai nama Islam. (Beritanya saya attach di bawah.) Saya kira atmosfir kita masih lebih lega dan tak memaksa lahirnya Islam bo'ongan.

Hamid meng-encourage kita untuk berbicara soal pengalaman pribadi, dan Saiful sudah memulai. Untuk saya sendiri, yang tak terlalu bangga dengan penghayatan keislaman saya (bukan karena soal apakah penghayatan itu benar atau salah, tapi lebih karena faktor cognitive dissonance), saya tak pernah merasa hak moral saya untuk berbicara tentang Islam (yang amat jarang saya lakukan) atau hidup sesuai dengan Islam yang saya pahami, berkurang karena penghayatan itu, sejauh saya merasa jujur terhadap diri sendiri. Kalau saya menggunakan istilah intellectual integrity, sebetulnya itu frase untuk menyebut kejujuran terhadap diri sendiri dalam konteks partisipan forum ini, yang saya yakin sebagian besar, kalau tak semuanya, adalah orang2 berpendidikan cukup—so it's about life too, not just some dry academic stuff.

Hak saya untuk hidup dengan Islam menurut pemahaman saya tak berkurang karena, seperti saya tulis di email sebelumnya, saya sepakat dengan Muthahhari (ulama berjenggot dan berjubah itu) bahwa what ultimately counts is sincerity. Agnostik, skeptik, believer 1, believer 2, believer X, dsb adalah istilah2 temporer untuk terminal2 dalam dinamisme perjalanan kita. Selama tak puas berhenti pada satu terminal, dan selama saya bisa mempertahankan keikhlasan—plus, tentunya, tak menutup diri—saya merasa punya hak keislaman yang sama dengan Muslim manapun—termasuk dengan para kyai atau ayatullah—seperti apapun kelirunya pemahaman saya menurut Muslim lain. Dengan itu, saya pribadi, saya akan menolak keras kalau Islam saya disebut Islam bo'ongan, seperti apapun "bo'ongan"-nya Islam saya menurut orang lain. It goes without saying: kalau penghayatan itu sampai membawa konsekuensi ke ruang publik, jelas kita mesti tunduk pada hukum. Di sinilah soal apakah bentuk Islam komunitas kita suffocating atau tidak jadi relevan; dan seperti saya tulis di atas, saya percaya atmosfir komunitas kita masih cukup melegakan—thanks partly to perjuangan Nurcholis dkk sejak 30 tahunan yang lalu.

Tolok ukur terpenting bukanlah pemahaman "konservatif", fundamentalis", atau "ortodoks" dari mayoritas, tapi ya integritas itu (keikhlasan/kejujuran). Hamid mungkin tak setuju dengan yang batiniah seperti itu; tapi saya kira kalau kita bicara soal agama, ultimately ini adalah persoalan pribadi; yang publik adalah limpahannya.

Untuk kesekian kalinya saya ulangi: saya sadar bahwa sikap seperti ini bisa diambil hanya dalam komunitas yang tak memiliki "perwakilan" sebuah penafsiran resmi atas agama yang mengikat secara hukum; yang tak "suffocating". Dan komunitas kita, saya yakin, masih menawarkan atmosfir yang memungkinkan kita bernafas dengan lega. Dalam hal-hal tertentu kita perlu strategi khusus menyembunyikan sesuatu yang privat, saya kira itu persoalan biasa dalam hidup sehari-hari; tak cuma menyangkut keislaman, dan tak perlu dibawa sampai ke tingkat teologi/metafisika.

Selanjutnya, saya juga baru paham kenapa Luthfi bersikeras tak perlu menjelaskan istilah Islam liberal ini. Email Taufik soal ini, meskipun amat singkat, membuka mata saya. Sebelum ini saya, yang bacaannya tentang pemikiran Islam kontemporer amat minim, berpikir ini adalah semacam technical term. Ternyata tidak. Tapi lebih merupakan istilah generik untuk menyatakan kumpulan respons Muslim terhadap modernitas (dan mungkin sekarang posmodernitas) yang memiliki karakteristik tertentu. Rupanya ketika Hamid menulis "progresif, dinamis, kritis," dsb, itu merujuk ke kumpulan respon ini. Kalau begitu, ada satu frase lain yang mungkin lebih tepat: "terbuka pada arus pemikiran dari luar Islam." "Luar" bisa berarti agama2 lain, filsafat2 baru yang berkembang di luar komunitas Islam, perkembangan sains, perkembangan sistem2 sosial, dsb.

Kalau saya boleh menambahkan sedikit kesimpulan saya: Islam liberal tak niscaya menuntut skeptisisme/agnotisisme, tapi bersedia mengakomodasinya. Mengambil contoh Muthahhari lagi, yang berani menjamin surga untuk skeptik yang ikhlas (see my previous email): salah satu agenda dia sebelum revolusi iran adalah mengcounter paham Marxisme yang merebak di kalangan anak muda Iran masa itu. Tapi dia meng-counter bukan dengan fatwa; dia bahkan pernah menyarankan pesantrennya untuk mengundang seorang Marxis tulen dari luar untuk berbicara di sana, agar murid2nya tahu Marxisme dari tangan pertama, bukan dari orang yang sudah siap dengan kritik2nya. Sayangnya, orang seliberal mullah yang satu ini justru akhirnya mati ditembak orang2 yang menganggap dirinya "Islam kiri." Ironis.

Saiful Mujani:

Maaf kalau saya kurang berhasil dalam bertutur. Dalam e-mail terakhir saya, saya tidak bertutur tentang keberagamaan pribadi saya, saya hanya membuat perumpamanaan-perumpamaan, mungkin salah memilih kata ya. Saya juga ingin meluruskan kalau ada kesan bahwa Islam liberal harus agnostik/skeptik. Saya hanya bertutur bahwa di kalangan intelektual sikap agnostik ini kemungkinan ada, dan dalam umat mainstream ini biasa menjadi persoalan, tapi Islam liberal harus mengakomodasinya. Bukan hanya terhadap yang agnostik, terhadap yang a-teis pun saya kira Islam liberal harus mengakomodasi dan bahkan melindungi agar dia tetap mendapat hak yang sama sesama warga negara. Terhadap yang fundamentalis juga harus bersikap sama asal yang fundamentalis ini tidak merusak tatanan kesetaraan sesama warga. Anda mungkin benar bahwa Islam kita di tanah air tidak sesumpek di negara-negara yang anda sebutkan itu. Tapi jangan lengah, dan tidak ada jaminan intelektual untuk mempertahankan atau membuatnya lebih baik.

Ada contoh kecil yang mungkin tidak signifikan untuk menggambarkan perlunya kesiagaan ini:  Ketika FPI melakukan pengadilan jalanan dengan merusak sasaran-sasaran rajianya, saya bertanya pada seorang intelektual yang saya kira liberal, yang sering nongol di media massa, "kenapa anda tidak bersuara terhadap kelakukan ini?" Yang keluar dari mulutnya adalah ungkapan rasa takut terhadap gerakan macam ini.

Bagi saya, Islam liberal membutuhkan semacam filsafat untuk membangun Islam yang inklusif dan toleran. Bagi saya masalah yang serius di dunia islam sekarang menyangkut masalah toleransi ini, dan masalah ini terletak sebagian dalam filsafat atau metafisika kita.

Sumber artikel ini :
http://islamlib.com/id/artikel/islam-liberal-definisi-dan-sikap
http://roele.wordpress.com/2008/02/28/islam-liberal/
http://stiebanten.blogspot.com/2011/06/pengertian-arti-islam-liberal.html
http://islam-moderat.blogspot.com/2009/06/definisi-islam-berpaham-liberal.html

Pengertian ISO 9001

Posted: 10 Feb 2012 08:31 PM PST

Pengertian ISO 9001 - Pengertian iso 9001 apa itu pengertian iso 9001 definisi atau pengertian iso 9001 adalah iso 9001 pengertian iso 9001 adalah dalam pembaca "ISO 9001 Forum" yg budiman, artikel ini ditulis untuk memahami system tsb secara sederhana, terutama bagi yg masih cukup awam, agar lebih mudah memahami. Yg penting adalah pemahamannya tidak "salah arah" dan nantinya diharapkan bisa menerapkan system tsb ke dalam kondisi nyata yg bisa berguna bagi pengembangan organisasi, bisnis, karir, maupun pribadinya.

Mungkin Anda pernah mendengar model-model manajemen yg lain selain System Manajemen Mutu ISO 9001. Seperti misalnya Total Quality Management (TQM), Balance Scorecard, MBNQA, dsb? Sebagaimana pengertian manajemen pada umumnya, bahwa manajemen adalah seni mengelola organisasi dengan memanfaatkan segala sumberdaya yg ada guna mencapai tujuan organisasi, maka sebagai sebuah model manajemen SMM ISO 9001 (QMS ISO 9001) juga memberi panduan bagaimana mengelola organisasi dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi.

Namun demikian ada perbedaan yg cukup mendasar, yakni bahwa organisasi yang menerapkan QMS ISO 9001, dan yang menghendaki sertifikasi, diwajibkan untuk mematuhi klausul-klausul yg dibuat oleh badan yg mengeluarkan standard internasional ISO 9001 tsb.

Kepatuhan atau compliance inilah yg membedakan System Manajemen Mutu ISO 9001 dengan model manajemen lainnya. Organisasi tidak bisa bebas mengembangkan sendiri system manajemennya. Itulah sebabnya audit QMS ISO 9001 disebut juga dengan compliance audit atau audit kepatuhan.

Yang menjadi fokus dalam System Manajemen Mutu - Quality Management System ISO 9001 adalah system manajemen atau pengelolaan mutu, yg harus mengacu kepada standard internasional ISO 9001 yang dikeluarkan oleh badan standarisasi internasional atau International Organization for Standardization. ISO sendiri bukan singkatan dari International Standardization Organization. ISO berasal dari bahasa Yunani "Isos" yang berarti sama atau seragam.

Pembaca "ISO 9001 Forum" yg budiman, Standard internasional System Manajemen Mutu - Quality Management System ISO 9001 mengatur bagaimana system manajemen harus dilakukan oleh suatu organisasi untuk bisa menjamin mutu produknya, baik barang (goods) maupun jasa (service) , agar mutu produk tsb sesuai dengan persyaratan pelanggan, atau persyaratan lain, maupun sesuai standard mutu yg telah ditetapkan organisasi.

Sebagai sebuah system manajemen formal / baku, ISO 9001 mengatur system dokumentasi organisasi terkait manajemen mutunya. Dokumen dalam system management mutu ISO 9001 biasanya berisi kebijakan mutu (Quality Policy), sasaran mutu (Quality Objectives), dan pedoman mutu (Quality Manual). Sedangkan system manajemen mutu itu sendiri mencakup antara lain:

    Customer contracts
    Rekrutmen dan pelatihan karyawan
    Design dan pengembangan produk dan jasa
    Produksi dan pengiriman produk.
    Pemilihan pemasok (Suppliers)
    Tanggung-jawab Manajemen.
    Internal audit mutu.
    Pengukuran dan pemantauan
    Perbaikan berkesinambungan
    Tindakan perbaikan dan pencegahan

Mutu, dalam System Manajemen Mutu - Quality Management System ISO 9001, bisa mencakup kualitas produk (Q), biaya atau Cost (C), pengiriman atau Delivey (D), keamanan / keselamatan atau safety (S) dan morale (M) atau biasa disingkat dengan QCDSM.

System Manajemen Mutu - Quality Management System ISO 9001 menggunakan pendekatan proses (Process Approach), pendekatan system (system approach) dan juga menggunakan pola Plan-Do-Check-Action (PDCA) - Continual Improvement.

Pembaca "ISO 9001 Forum" yg budiman, bagaimana penjelasan tentang Process Approach, pendekatan system system approach, dan Plan-Do-Check-Action (PDCA) - Continual Improvement, kami bahas tersendiri dalam artikel lain di Blog ini.

Anda juga bisa mengakses artikel terkait di berbagai Link yg ada di Blog ini untuk artikel-2 yg belum bisa Anda temukan di Blog ini. Untuk diskusi berbagai hal terkait Quality, seperti juga Total Quality Management (TQM), Balance Scorecard (BSC), Lean Manufacturing, dsb. silakan Anda baca di Quality Forum atau klik di sini: http://www.quality-forums.co.cc/.

Salam Mutu.

Sumber artikel:
http://iso-9001-forum.blogspot.com/2009/02/iso-9001-pengertian-iso-9001.html

Pengertian ISO

Posted: 10 Feb 2012 08:25 PM PST

Pengertian Iso - Pengertian iso apa itu pengertian iso definisi atau pengertian iso adalah iso pengertian iso adalah Organisasi Standar Internasional (ISO) adalah suatu asosiasi global yang terdiri dari badan-badan standardisasi nasional yang beranggotakan tidak kurang dari 140 negara. ISO merupakan suatu organisasi di luar pemerintahan (Non-Government Organization/NGO) yang berdiri sejak tahun 1947.

Misi dari ISO adalah untuk mendukung pengembangan standardisasi dan kegiatan-kegiatan terkait lainnya dengan harapan untuk membantu perdagangan internasional, dan juga untuk membantu pengembangan kerjasama secara global di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan kegiatan ekonomi. Kegiatan pokok ISO adalah menghasilkan kesepakatan-kesepakatan internasional yang kemudian dipublikasikan sebagai standar internasional.

Standar adalah kesepakatan-kesepakatan yang telah didokumentasikan yang di dalamnya terdiri antara lain mengenai spesifikasi-spesifikasi teknis atau kriteria-kriteria yang akurat yang digunakan sebagai peraturan, petunjuk, atau definisi-definisi tertentu untuk menjamin suatu barang, produk, proses, atau jasa sesuai dengan yang telah dinyatakan. Salah satu contohnya adalah penetapan standar ukuran dan format kartu kredit, atau kartu-kartu "pintar" (smart) lainnya yang telah mengikuti standar internasional ISO dan dapat digunakan di berbagai mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di seluruh dunia, dan banyak contoh-contoh lainnya. Dengan demikian standar internasional telah membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah, serta lebih meningkatkan keandalan dan kegunaan barang dan jasa.

Pengertian ISO
Organisasi Standar Internasional (ISO) adalah suatu asosiasi global yang terdiri dari badan-badan standardisasi nasional yang beranggotakan tidak kurang dari 140 negara. ISO merupakan suatu organisasi di luar pemerintahan (Non-Government Organization/NGO) yang berdiri sejak tahun 1947. Misi dari ISO adalah untuk mendukung pengembangan standardisasi dan kegiatan-kegiatan terkait lainnya dengan harapan untuk membantu perdagangan internasional, dan juga untuk membantu pengembangan kerjasama secara global di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan kegiatan ekonomi. Kegiatan pokok ISO adalah menghasilkan kesepakatan-kesepakatan internasional yang kemudian dipublikasikan sebagai standar internasional.

Nama ISO
Banyak pihak melihat adanya suatu ketidakcocokan antara nama lengkap "International Organization for Standardization" dengan kependekannya 'ISO', dimana 'IOS' dianggap lebih tepat. Anggapan itu benar bila penetapan nama didasarkan pada kependekannya. Yang sebenarnya, istilah ISO bukan merupakan kependekan, tapi merupakan nama dari organisasi internasional tersebut. "ISO" berasal dari Bahasa Latin (Greek) "isos" yang mempaunyai arti "sama" (equal). Awalan kata "iso-" juga banyak dijumpai misalnya pada kata "isometric", "isomer", "isonomy", dan sebagainya.

Dari kata "sama" (equal) menjadi "standar" inilah "ISO" dipilih sebagai nama organisasi yang mudah untuk dipahami. ISO sebagai nama organisasi juga dalam rangka menghindari penyingkatan kependekannya bila diterjemahkan ke dalam bahasa lain dari negara anggota, misalnya IOS dalam bahasa Inggris, atau OIN (Organisation Internationale de Normalisation) dalam bahasa Perancis, atau OSI (Organsiasi Standardisasi Internasional) dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian apapun bahasa yang digunakan, organisasi ini namanya tetap ISO.

Kebutuhan Standar Internasional
Dengan adanya standar-standar yang belum diharmonisasikan terhadap teknologi yang sama dari beberapa negara atau wilayah yang berbeda, kiranya dapat berakibat timbulnya semacam "technical barriers to trade (TBT)" atau "hambatan teknis perdagangan". Industri-industri pengekspor telah lama merasakan perlunya persetujuan terhadap standar dunia yang dapat membantu mengatasi hambatan-hambatan tersebut dalam proses perdagangan internasional. Dari timbulnya permasalahan inilah awalnya organisasi ISO didirikan.
Standardisasi internasional dibentuk untuk berbagai teknologi yang mencakup berbagai bidang, antara lain bidang informasi dan telekomunikasi, tekstil, pengemasan, distribusi barang, pembangkit energi dan pemanfaatannya, pembuatan kapal, perbankan dan jasa keuangan, dan masih banyak lagi. Hal ini akan terus berkembang untuk kepentingan berbagai sektor kegiatan industri pada masa-masa yang akan datang.
Perkembangan ini diperkirakan semakin pesat antara lain karena hal-hal sebagai berikut :
• Kemajuan dalam perdagangan bebas di seluruh dunia
• Penetrasi teknologi antar sektor
• Sistem komunikasi di seluruh dunia
• Standar global untuk pengembangan teknologi
• Pembangunan di negara-negara berkembang

Standardisasi industri adalah suatu kenyataan yang diperlukan di dalam suatu sektor industri tertentu bila mayoritas barang dan jasa yang dihasilkan harus memenuhi suatu standar yang telah dikenal. Standar seperti ini perlu disusun dari kesepakatan-kesepakatan melalui konsensus dari semua pihak yang berperan dalam sektor tersebut, terutama dari pihak produsen, konsumen, dan seringkali juga pihak pemerintah. Mereka menyepakati berbagai spesifikasi dan kriteria untuk diaplikasikan secara konsisten dalam memilih dan mengklasifikasikan barang, sarana produksi, dan persyaratan dari jasa yang ditawarkan.
Tujuan penyusunan standar adalah untuk memfasilitasi perdagangan, pertukaran, dan alih teknologi melalui :

    Peningkatan mutu dan kesesuaian produksi pada tingkat harga yang layak
    Peningkatan kesehatan, keamanan dan perlindungan lingkungan, dan pengurangan limbah
    Kesesuaian dan keandalan inter-operasi yang lebih baik dari berbagai komponen untuk menghasilkan barang maupun jasa yang lebih baik
    Penyederhanaan perancangan produk untuk peningkatan keandalan kegunaan barang dan jasa
    Peningkatan efisiensi distribusi produk dan kemudahan pemeliharaannya

Pengguna (konsumen) lebih percaya pada barang dan jasa yang telah mendapatkan jaminan sesuai dengan standar internasional. Jaminan terhadap kesesuaian tersebut dapat diperoleh baik dari pernyataan penghasil barang maupun melalui pemeriksaan oleh lembaga independen.

Sejarah singkat perubahan
Pre ISO 9000
Selama perang dunia ke-2, terdapat banyak sekali persoalan mutu dalam industri teknologi tinggi di Inggris, seperti amunisi yang meledak saat masih di pabrik pembuatnya. Solusi yang dilakukan adalah dengan mensyaratkan pabrik untuk mendokumentasikan prosedur serta menunjukannya dengan bukti-bukti terdokumentasi untuk membuktikan bahwa prosedur tersebut telah dilakukan sesuai dengan yang dituliskan. Nama standar itu dikenal dengan kode BS 5750, dan diakui sebagai standar manajemen sebab ia tidak menyatakan apa yang dibuat, tapi bagaimana mengelola proses pembuatannya. Pada tahun 1987, pemerintah Inggris meyakinkan ISO untuk mengadopsi BS 5750 sebagai standar internasional, dan kemudian BS 5750 menjadi ISO 9000.

Versi 1987
Standar ISO tentang SMM versi 1987 memiliki struktur yang sama dengan BS 5750, dengan 3 (tiga) model SMM, pemilihan didasarkan pada ruang lingkup aktivitas suatu organisasi:

    ISO 9001:1987 Model, untuk penjaminan mutu (QA = quality assurance) dalam desain, pengembangan, produksi, instalasi dan pelayanan bagi organisasi yang memiliki aktivitas menciptakan produk baru.
    ISO 9002:1987 Model, untuk QA dalam produksi, instalasi dan pelayanan yang dasarnya sama dengan ISO 9001:1987 namun tanpa aktivitas menciptakan produk baru.
    ISO 9003:1987 Model, untuk QA dalam pengujian dan inspeksi akhir saja.
    ISO 9000:1987 dipengaruhi oleh standar militer di Amerika Serikat khususnya, namun juga cocok diterapkan pada manufaktur. Penekanan standar ini adalah pada kesesuaian dengan prosedur-prosedur daripada terhadap proses manajemen secara keseluruhan.

Versi 1994
Standar ISO tentang SMM versi 1994 menekankan QA melalui tindakan preventif, sebagai ganti dari hanya melakukan pemeriksaan pada produk akhir, namun tetap melanjutkan pembuktian kepatuhan dengan prosedur-prosedur terdokumentasi. Dan karenanya, seperti versi sebelumnya, organisasi cenderung menghasilkan begitu banyak manual prosedur sehingga membebani organisasi tersebut dengan rangkaian birokrasi yang tidak perlu.

Versi 2000
Standar ISO tentang SMM versi 2000 memadukan ketiga standar ISO 9001, 9002, and 9003 menjadi hanya satu standar yaitu 9001. Prosedur desain dan pengembangan disyaratkan hanya jika organisasi berkaitan secara langsung dengan aktivitas penciptaan produk baru. Versi 2000 ini membuat perubahan mendasar dalam konsep SMM ISO 9000 ini dengan menempatkan manajemen proses sebagai landasan pengukuran, pengamatan dan peningkatan tugas dan aktivitas organisasi, daripada hanya melakukan inspeksi pada produk akhir. Versi 2000 ini juga menuntut keterlibatan manajemen puncak dalam mengintegrasikan manajemen mutu dengan sistem bisnis secara keseluruhan, dan juga menghindari pendelegasian fungsi-fungsi manajemen mutu ke administrator yunior. Tujuan lainnya adalah meningkatkan efektivitas melalui pengukuran-pengukuran statistik untuk memenuhi kepuasan pelanggan dan peningkatan berkesinambungan.
Kritisi terhadap versi 1994, terkait dengan beban dokumentasi sistem manajemen mutu, ditanggapi pada versi 2000 sebagai berikut:

Untuk membuktikan pemenuhan persyaratan ISO 9001:2000, organisasi harus mampu menyediakan bukti objektif (tidak perlu terdokumentasi) bahwa SMM telah diterapkan secara efektif.
Analisis dari proses sebaiknya merupakan sumber untuk menetapkan jumlah dokumen yang diperlukan bagi SMM, guna memenuhi persyaratan ISO 9001:2000. Bukan dokumentasi yang menentukan proses. ISO 9001:2000, memberikan fleksibilitas bagi organisasi untuk memilih pendokumentasian SMM, memungkinkan setiap organisasi mengembangkan jumlah minimum dari dokumentasi yang diperlukan untuk mendemonstrasikan perencanaan yang efektif, operasi dan kontrol prosesnya serta penerapannya dan peningkatan dari efektifitas SMM.
Penekanan bahwa ISO 9001 mensyaratkan "documented quality management system", and not a "system of documents".

Versi 2008
Pada tanggal 14 Nopember 2008, ISO telah menerbitkan standar SMM versi 2008, yaitu ISO 9001:2008, Quality management system – Requirements. Secara umum tidak muncul adanya persyaratan baru pada standar ini dibandingkan versi sebelumnya. Revisi yang dilakukan adalah untuk mempertegas pernyataan-pernyataan dalam standar yang dianggap perlu untuk dijelaskan. Misalnya: jenis pengendalian yang dapat diterapkan untuk outsourced processes, satu prosedur tunggal dapat digunakan untuk mengatur beberapa kegiatan yang wajib didokumentasikan, dan penyelarasan dengan standar-standar terkait yang terbit dalam periode 2000-2008, seperti ISO 9000:2005, ISO 19011:2002, dan ISO 14001:2004.
Terkait dengan masa transisi, dari ISO 9001:2000 ke ISO 9001:2008, ISO dengan IAF (International Accreditation Forum) menyetujui skema sebagai berikut:

    12 bulan setelah publikasi ISO 9001:2008, semua sertifikat yang diterbitkan (baru maupun re-sertifikasi) harus mengacu ke ISO 9001:2008
    24 bulan setelah publikasi ISO 9001:2008, semua sertifikat yang diterbitkan sesuai ISO 9001:2000 tidak berlaku.

Meskipun dalam masa transisi, sertifikat ISO 9001:2000 mempunyai status yang sama dengan sertifikat ISO 9001:2008, namun organisasi yang telah memiliki sertifikat ISO 9001:2000 sebaiknya menghubungi Lembaga Sertifikasi untuk menyetujui program untuk menganalisa klarifikasi ISO 9001:2008 dengan SMM yang diterapkannya.

Organisasi yang sedang dalam proses sertifikasi ISO 9001:2000 sebaiknya berubah menggunakan ISO 9001:2008 untuk sertifikasinya. Lembaga Sertifikasi yang telah diakreditasi harus menjamin bahwa auditornya mengetahui akan klarifikasi ISO 9001:2008, dan implikasinya, dalam melaksanakan audit sesuai ISO 9001:2008 tersebut. Konsultan dan lembaga pelatihan disarankan untuk mengetahui akan klarifikasi ISO 9001:2008 serta menentukan kebutuhan untuk memperbaharui program pelatihan/dokumentasi dan perubahrnnya yang diperlukan untuk pelaksanaan pelatihan/konsultasi ISO 9001:2008.

Pengertian Islam

Posted: 10 Feb 2012 08:19 PM PST

Pengertian Islam - Pengertian islam apa itu pengertian islam definisi atau pengertian islam adalah islam pengertian islam adalah (Arab: al-islām, Ψ§Ω„Ψ₯Ψ³Ω„Ψ§Ω… Tentang suara ini dengarkan (bantuan·info): "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: Ψ§Ω„Ω„Ω‡, Allāh).

Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Kata triliteral semitik 'S-L-M' menurunkan beberapa istilah terpenting dalam pemahaman mengenai keislaman, yaitu Islam dan Muslim. Kesemuanya berakar dari kata Salam yang berarti kedamaian. Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab Aslama, yang bermakna "untuk menerima, menyerah atau tunduk" dan dalam pengertian yang lebih jauh kepada Tuhan.

Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penyerahan diri kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur'an. Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..."

Ayat lain menghubungkan Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur'an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental. Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi oleh Tuhan yang sama.

Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.

Umat Islam juga meyakini al-Qur'an yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril adalah sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah :2). Di dalam al-Qur'an Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman.

Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu sebelum Muhammad. Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Umat Islam meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu agama yang sama dengan (tauhid|satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya seorang muslim. Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering direferensikan sebagai Ahli Kitab atau orang-orang yang diberi kitab.

Selengkapnya kunjungi sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Islam

Pengertian Isp

Posted: 10 Feb 2012 08:13 PM PST

Pengertian Isp - Pengertian isp apa itu pengertian isp definisi atau pengertian isp adalah isp pengertian isp adalah Internat Service Provider (ISP) adalah perusahaan atau badan usaha yang menjual koneksi internet atau sejenisnya kepada pelanggan. ISP awalnya sangat identik dengan jaringan telepon, karena dulu ISP menjual koneksi atau access internet melalui jaringan telepon. Seperti salah satunya adalah telkomnet instant dari Telkom.

Sekarang, dengan perkembangan teknologi ISP itu berkembang tidak hanya dengan menggunakan jaringan telepon tapi juga menggunakan teknologi seperti fiber optic dan wireless. Di Bali, denpasar pada khususnya ISP dengan teknologi wireless paling banyaktumbuh.
Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/ISP

Karena teknologi ini "paling murah". Tidak perlu membangun jaringan kabel, mudah dipindahkan, tidak ada biaya ijin dan lain-lain.
Lalu gimana sebenarnya kerja internet dengan adanya ISP ini?
ISP terkoneksi satu sama lain dalam Internet Exchange, interkoneksi. Sebagian besar ISP memerlukan upstream. ISP yang tidak memiliki upstream disebut Tier1, tier1 hanya memiliki pelanggan dan interkoneksi.
2. Prosedur berlangganan
Pelanggan yang berlangganan dengan sebuah ISP harus mengikuti aturan-aturan berlangganan yang ditetapkan oleh ISP tersebut. Biasanya masing-masing ISP memiliki kebijakan-kebijakan tersendiri namun pada umumnya ISP-ISP tersebut melarang pelanggan untuk menggunakan koneksi internet untuk keperluan-keperluan yang negative dan melanggar hukum.
Kita mungkin sudah kenal dengan Telkomnet instant, produk layanan internet ini adalah salah satu produk internet yang sudah cukup lama hadir di masyarakat. Pemakai sangat gampang dalam melakukan koneksi ke internet, cukup sediakan sebuah modem yang terhubung ke PC dan line telepon, pelanggan langsung bisa melakukan koneksi dengan mudah, cukup dial nomer tertentu masukkan username dan password, beres?.
Tipe layanan dari ISP biasanya dapat kita kategorikan menjadi 2 bagian yaitu :
1. Dial on demand Internet
Dial on demand ini adalah layanan internet dimana pelanggan tidak terkoneksi secara terus menerus ke internet. Pelanggan akan dibebani biaya berdasarkan lamanya mereka terkoneksi ke internet.
Contoh layanan internet dial on demand adalah : Telkomnet instant dari Telkom, layanan-layanan dial up dari ISP yang lain, juga beberapa layanan dari ISP wireless local.
2. Dedicated Internet
Pelanggan yang menggunakan dedicated internet akan terhubung terus dengan internet 24/7. Sistem pembayaran dari layanan ini juga biasanya dilakukan per bulan dimana pelanggan akan membayar sesuai dengan paket yang ditawarkan, baik selama sebulan tersebut pengguna memang benar menggunakan internet 24 jam penuh atau tidak.
Sistem dedicated ini biasanya mahal, dan biasanya untuk menekan biaya langganan, ISP memberikan beberapa metode untuk menekan harga misalnya dengan membatasi jumlah data yang boleh didownload dan diupload oleh pelanggan selama 1 bulan. Jumlah batasan data ini biasanya disebut dengan quota.
Contoh layanan internet dedicated internet adalah layanan-layanan dari Channel 11, ERA AKSES, Speedy dari Telkom dan layanan-layanan dari ISP wireless local.
3. Isi dari ISP
Apa sih isi dari ISP itu?
ISP itu isinya adalah orang dan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk memberikan service koneksi internet kepada pelanggan-pelanggannya Peralatan-peralatan tersebut biasanya berupa server, router, peralatan-peralatan untuk koneksi ke pelanggan-pelanggannya dan peralatan-peralatan interkoneksi mereka ke upstream. Biasanya ISP bekerja sama dengan operator jaringan dalam menjalankan usahanya. Jadi ada juga ISP yang tidak memiliki peralatan jaringan. Mereka hanya punya SDM untuk penjualan, customer support dan billing atau penagihan. Sisanya, mulai bandwidth, system jaringan, diserahkan kepada operator jaringan. Misalnya saya adalah sebuah ISP bekerja sama dengan pemilik jaringan telepon untuk membuat system koneksi internet dial up. Saya juga membeli bandwidth dari pemilik jaringan telepon tersebut dan saya terima beres semuanya. Setelah itu saya tinggal menjual produk internet dial up tersebut, menyediakan system customer support dan menangani pembayaran.
4. FAQ tentang Pemilihan ISP
Pertanyaan-pertanyaan yang sering saya jumpai :
1. Mengapa ISP tidak bisa membersihkan virus?
Yang bisa membersihkan virus adalah sebuah program antivirus. Antivirus hanya bisa mengidentifikasikan atau menebak sebuah file/data/program itu adalah virus, jika file/data/program itu sudah utuh.
Sedangkan file/data/program yang diterima dan dilewatkan oleh ISP itu adalah dalam bentuk pecahan.
2. ISP yang bagus :
Kriteria apa sih yang bisa dipakai acuan oleh calon pengguna internet ?
a. Pelanggannya banyak
Sebuah ISP dengan ratusan pelanggan, mestinya secara kualitas lebih baik dibanding ISP yang masih memiliki puluhan pelanggan. Sebab ngga mungkin donk ratusan orang salah pilih. Dan kesempatan calon pelanggan untuk bertanya kepada pengguna ISP tersebut juga semakin gampang. Malah bisa jadi teman anda sudah menggunakannya. Kan lebih enak kalau kata ISP tersebut bagus atau tidak keluar dari teman yang bisa kita percaya.
Jadi pertanyaan calon pengguna internet kepada bagian marketing atau sales dari sebuah ISP adalah : Berapa jumlah pelanggan Anda?
b. Service.
ISP dan jaringan computer yang saling berkaitan pada dasarnya dibangun pada sebuah system yang tidak reliable. Masalah pada koneksi internet itu sangat lumrah terjadi. Bencana alam, kesalahan manusia, umur peralatan, kesalahan manusia saat mengoperasikan peralatan, listrik dsb bisa menyebabkan koneksi internet pelanggan mati. Jadi pastikan saat anda mengalami masalah dengan internet anda mempunyai tempat untuk berkonsultasi. Setidaknya anda tahu nanti masalah terjadi dimana dan kira-kira kita harus bagaimana sekarang untuk bisa mendapatkan koneksi internet lagi.
Ini penting bagi anda-anda yang awam dengan internet dan orang-orang yang menggunakan internet 24 jam sehari.
Kemudian jaminan-jaminan apa yang akan anda dapatkan jika menggunakan layanan sebuah ISP?
Sebab harga insvestasi awal untuk melakukan koneksi ke internet masih cukup mahal ya. Apakah ada jaminan terhadap investasi anda tersebut, kemudian jaminannya dalam bentuk apa?
Apakah ada kontrak khusus dengan anda, dan bagaimana sistemnya?
c. Mempunyai system redundancy.
System redundancy itu apa sih?
Bahasa awamnya adalah system koneksi cadangan. Dimana koneksi ini akan berfungsi jika koneksi utama mereka mati. Sangat penting, seperti kondisi saat kabel FO dunia di Taiwan putus, kalau ISPnya tidak memiliki koneksi cadangan yang bagus, maka dipastikan selama 3 minggu koneksi anda tidak akan bisa digunakan.
d. Harga
Iya, harga sebenarnya adalah factor utama. Tapi sebenarnya pemilihan koneksi internet bagusnya dilihat dari perbandiangan antara harga dengan bandwidth dan kebutuhan anda. Sebab sekarang harga bandwidth internet di Denpasar sudah cukup standar dimana umumnya internet paling murah itu rata-rata dimulai dari 300ribu rupiah, walaupun ada saya dengar bisa 100-200ribu rupiah tapi saya belum pernah ketemu langsung dengan orang yang menggunakannnya.
Harga sebanding dengan bandwidth atau kecepatan internet. Semakin murah, semakin kecil kecepatannya. Kita tidak perlu berargumen banyak dalam hal ini sebab, fakta secara teknis memang begitu. Kalau dari sisi marketing, beda cerita lah

Pengertian Investasi

Posted: 10 Feb 2012 08:09 PM PST

Pengertian Investasi - Pengertian investasi apa itu pengertian investasi definisi atau pengertian investasi adalah investasi pengertian investasi adalah Menurut Sunariyah (2003:4): "Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang." Dewasa ini banyak negara-negara yang melakukan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan investasi baik domestik ataupun modal asing.

Hal ini dilakukan oleh pemerintah sebab kegiatan investasi akan mendorong pula kegiatan ekonomi suatu negara, penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, penghematan devisa atau bahkan penambahan devisa.

Menurut Husnan (1996:5) menyatakan bahwa "proyek investasi merupakan suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa ataupun proyek kecil untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang." Pada umumnya manfaat ini dalam bentuk nilai uang. Sedang modal, bisa saja berbentuk bukan uang, misalnya tanah, mesin, bangunan dan lain-lain.
Namun baik sisi pengeluaran investasi ataupun manfaat yang diperoleh, semua harus dikonversikan dalam nilai uang.
Suatu rencana investasi perlu dianalisis secara seksama. Analisis rencana investasi pada dasarmya merupakan penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (baik besar atau kecil) dapat dilaksanakan dengan berhasil, atau suatu metode penjajakkan dari suatu gagasan usaha/bisnis tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha/bisnis tersebut dilaksanakan.
Suatu proyek investasi umumnya memerlukan dana yang besar dan akan mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu dilakukan perencanaan investasi yang lebih teliti agar tidak terlanjur menanamkan investasi pada proyek yang tidak menguntungkan.

Berdasarkan (www.sinarharapan.co.id/ekonomi/eureka/2003/021/eur1.html) menyatakan bahwa alasan melakukan investasi adalah sebagai berikut:
a. Produktivitas seseorang yang terus mengalami penurunan.
b. Tidak menentunya lingkungan perekonomian sehingga memungkinkan suatu saat penghasilan jauh lebih kecil dari pengeluaran.
c. Kebutuhan-kebutuhan yang cenderung mengalami peningkatan.

Tipe Investor Menurut profil Resiko

Tipe-tipe investor menurut profil resiko dalam berinvestasi dapat dideskripsikan berikut (www.danareksa.com/home/index_produk.cfm?act=investasiRepot)

1. Defensive
Investor dengan tipe defensive, investor ini berusaha untuk mendapatkan keuntungan dan menghindari resiko sekecil apapun dari investasi yang dilakukan. Investor tipe ini tidak mempunyai keyakinan yang cukup dalam hal spekulasi, dan lebih memilih untuk menunggu saat-saat yang tepat dalam berinvestasi agar investasi yang dilakukan terbebas dari resiko.

2. Conservative
Investor dengan tipe conservative, biasanya berinvestasi untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan dengan rentang waktu investasi yang cukup panjang, misalnya, untuk pendidikan perguruan tinggi anak atau biaya hidup di hari tua. Investor tipe ini memiliki kecenderungan menanam investasi dengan keuntungan (yield) yang layak saja dan tidak memiliki resiko besar, karena filosofi investasi mereka untuk menghindari resiko. Walaupun investor conservative sering berinvestasi, investor ini umumnya mengalokasikan sedikit waktu untuk menganalisa dan mempelajari portofolio investasinya.
3. Balanced
Investor dengan tipe balanced, merupakan tipe investor yang menginginkan resiko menengah. Investor tipe ini selalu mencari proporsi yang seimbang antara resiko yang dimungkinkan terjadi dengan pendapatan yang dapat diraih. Tipikal investor ini bahwa mereka akan selalu berhati-hati dalam memilih jenis investasi, dan hanya investasi yang proporsional antara resiko dan penghasilan yang bisa diperoleh yang akan dipilih.
4. Moderately aggressive
Moderately aggressive, merupakan tipe investor yang tenang atau tidak ekstrim dalam menghadapi resiko. Investor ini cenderung memikirkan kemungkinan terjadinya resiko dan kemungkinan bisa mendapatkan keuntungan. Dalam hal ini, investor dengan tipe moderately aggressive selalu tenang dalam mengambil keputusan investasi karena keputusan yang ditetapkan sudah dipikirkan sebelumnya.
5. Aggressive
Investor aggressive, atau biasa disebut 'pemain', adalah kebalikan dari investor conservative. Mereka sangat teliti dalam menganalisa portofolio yang dimiliki.
Semakin banyak angka-angka dan fakta yang bisa dianalisa adalah semakin baik. Investor tipe ini umumnya berinvestasi dengan rentang waktu relatif pendek karena mengharapkan adanya keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak berharap untuk merugi, namun setiap investor aggressive menyadari bahwa kerugian adalah bagian dari permainan.

Jenis-Jenis Investasi

Menurut Senduk (2004:24) bahwa produk-produk investasi yang tersedia di pasaran antara lain:
a. Tabungan di bank
Dengan menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku bunga tertentu yang besarnya mengikuti kebijakan bank bersangkutan. Produk tabungan biasanya memperbolehkan kita mengambil uang kapanpun yang kita inginkan.
b. Deposito di bank
Produk deposito hampir sama dengan produk tabungan. Bedanya, dalam deposito tidak dapat mengambil uang kapanpun yang diinginkan, kecuali apabila uang tersebut sudah menginap di bank selama jangka waktu tertentu (tersedia pilihan antara satu, tiga, enam, dua belas, sampai dua puluh empat bulan, tetapi ada juga yang harian). Suku bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga tabungan. Selama deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan terpengaruh pada naik turunnya suku bunga di bank.
c. Saham
Saham adalah kepemilikan atas sebuah perusahaan tersebut. Dengan membeli saham, berarti membeli sebagian perusahaan tersebut. Apabila perusahaan tersebut mengalami keuntungan, maka pemegang saham biasanya akan mendapatkan sebagian keuntungan yang disebut deviden. Saham juga bisa dijual kepada pihak lain, baik dengan harga yang lebih tinggi yang selisih harganya disebut capital gain maupun lebih rendah daripada kita membelinya yang selisih harganya disebut capital loss. Jadi, keuntungan yang bisa didapat dari saham ada dua yaitu deviden dan capital gain.
d. Properti
Investasi dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau rumah.
Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua yaitu :
(a) Menyewakan properti tersebut ke pihak lain sehingga mendapatkan uang sewa.
(b) Menjual properti tersebut dengan harga yang lebih tinggi.
e. Barang-barang koleksi
Contoh barang-barang koleksi adalah perangko, lukisan, barang antik, dan lain-lain. Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada barang-barang koleksi adalah dengan menjual koleksi tersebut kepada pihak lain.
f. Emas
Emas adalah barang berharga yang paling diterima di seluruh dunia setelah mata uang asing dari negara-negara G-7 (sebutan bagi tujuh negara yang memiliki perekonomian yang kuat, yaitu Amerika, Jepang, Jerman, Inggris, Italia, Kanada, dan Perancis). Harga emas akan mengikuti kenaikan nilai mata uang dari negara-negara G-7. Semakin tinggi kenaikan nilai mata uang asing tersebut, semakin tinggi pula harga emas. Selain itu harga emas biasanya juga berbanding searah dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin tinggi pula kenaikan harga emas. Seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan inflasi itu sendiri.
g. Mata uang asing
Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi.
Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan investasi dalam saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia menganut sistem mengambang bebas (free float) yaitu benar-benar tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran. Di Indonesia mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
h. Obligasi
Obligasi atau sertifikat obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan, baik untuk menambah modal perusahaan atau membiayai suatu proyek pemerintah. Karena sifatnya yang hampir sama dengan deposito, maka agar lebih menarik investor suku bunga obligasi biasanya sedikit lebih tinggi dibanding suku bunga deposito. Selain itu seperti saham kepemilikan obligasi dapat juga dijual kepada pihak lain baik dengan harga yang lebih tinggi maupun lebih rendah daripada ketika membelinya. Terdapat pengelompokkan jenis-jenis investasi
(www.winterthur.co.id/id/winpens3.htm), yaitu:
1. Deposito berjangka
Simpanan dalam mata uang Rupiah, dengan tingkat suku bunga relatif lebih tinggi dibandingkan jenis simpanan lainnya. Tersedia dalam jangka waktu 1,3, 6, 12, dan 24 bulan.
2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) merupakan bagian dari upaya BI untuk meredam dan menstabilkan likuiditas yang ada di pasar.
3. Saham
Surat bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberikan berbagai hak menurut ketentuan anggaran dasar (shares, stock ).
4. Obligasi
Surat utang yang berjangka waktu lebih dari satu tahun dan bersuku bunga tertentu, yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik dana dari masyarakat, guna pembiayaan perusahaan atau oleh pemerintah untuk keperluan anggaran belanjanya (debenture bond).
5. Sekuritas pasar uang
Sekuritas pasar uang merupakan surat-surat berharga jangka pendek yang diperjualbelikan di pasar uang.
6. Sertifikat hutang obligasi
Merupakan bukti kepemilikan piutang kepada pihak lain. Sertifikat ini dapat diperjualbelikan pada tingkat diskonto tertentu. Sertifikat hutang obligasi ini
merupakan bentuk investasi jangka panjang.
7. Tanah/bangunan
Investasi ini tergolong investasi dalam bentuk property, investasi ini biasanya untuk jangka waktu panjang karena mengharapkan adanya kenaikan dari nilai tanah/bangunan yang telah dibelinya.
8. Reksa dana.
Wadah investasi yang berisi dana dari sejumlah investor dimana uang didalamnya diinvestasikan ke dalam berbagai produk investasi oleh sebuah Perusahaan Manajemen Investasi (Mutual Fund).

Keunggulan dan Kekurangan Setiap Investasi
a. Produk perbankan
(1) Tabungan
Digunakan untuk menyimpan dana nasabah. Dapat memberikan banyak kemudahan, antara lain:
• Likuiditas yang tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank dan ATM
• Kemudahan bertransaksi: pengiriman uang, pembayaran (telepon, kartu kredit, dan lain-lain), penukaran uang, dan lain-lain.
• Dijamin pemerintah, sampai tahun 2006.
Kekurangan:
• Suku bunga yang diberikan sangat rendah, di bawah tingkat inflasi.
• Bunga kena pajak 20% untuk yang di atas Rp 7,5 juta.
(2) Rekening koran (cheque/giro)
Dipergunakan secara luas oleh perusahaan dan perorangan, untuk melakukan transaksi keuangan.
Kemudahan, antara lain:
• Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank pencairan cek.
• Kemudahan bertransaksi: pembayaran ke pihak lain tanpa menggunakan uang tunai dan tanpa harus datang ke bank.
• Dijamin oleh pemerintah.
Kekurangan:
• Tidak ada bunga, hanya terdapat jasa giro yang sangat rendah
• Bunga kena pajak 20%.
(3) Deposito berjangka
Dipergunakan untuk menabung/menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu.
Kemudahan, antara lain:
• Suku bunga yang lebih tinggi, sekitar 6%.
• Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja, meskipun ada jangka waktu
tertentu.
• Dapat dijaminkan: untuk mendapatkan hutang dari bank yang sama.
• Dijamin oleh pemerintah, rate (%) x (# of Days/365) x Nominal x 0.80, 12% x (31/365) x IDR 1,000,000 x 0.80.
Kekurangan:
• Terkena penalti, bila diambil sebelum jatuh tempo
• Bunga kena pajak 20%, di atas Rp 7,5 juta.
Kesimpulan:
Dikarenakan sifatnya dan bunga yang diberikan dari suatu produk perbankan berada di bawah rate inflasi, maka produk perbankan tidak sesuai untuk dipakai sebagai alat investasi.
Kelebihan:
• Akses yang cepat/likuiditas yang tinggi
• Kemudahan bertransaksi
• Jaminan pemerintah
Secara umum, bank idealnya digunakan sebagai tempat melakukan transaksi.
Produk perbankan sangat ideal dipergunakan untuk penempatan dana darurat (emergency fund).

b. Produk investasi
Reksa Dana/Unit Trust
Keunggulan:
• Diversifikasi
• Pilihan investasi yang beragam
• Transparansi
• Peraturan yang ketat
• Biaya yang rendah (subs, redeem, management fee)
• Keuntungan pajak (untuk di Indonesia saat ini)
• Minimum investasi yang rendah.

Pengertian Inflasi

Posted: 10 Feb 2012 08:02 PM PST

Pengertian inflasi - Pengertian inflasi apa itu pengertian inflasi definisi atau pengertian inflasi adalah inflasi pengertian inflasi adalah suatu   keadaan   di  mana   harga   barang-barang   secara   umum mengalami  kenaikan  dan  berlangsung  dalam  waktu  yang   lama   terus-menerus.  Harga barang yang ada mengalami kenaikan nilai dari waktu-waktu sebelumnya dan berlaku di mana-mana dan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Inflasi dapat menyebabkan gangguan pada stabilitas ekonomi di mana para pelaku ekonomi enggan untuk melakukan spekulasi dalam perekonomian. Di samping itu inflasi juga bisa memperburuk tingkat kesejahteraan masyarakat akibat menurunnya daya beli masyarakat secara umum akibat harga-harga yang naik. Selain itu distribusi pendapatan pun  semakin  buruk  akibat   tidak  semua  orang  dapat  menyesuaikan  diri  dengan   inflasi yang terjadi.

Dijelaskan banyak pengertian inflasi yang disampaikan para ahli. Inflasi menurut A.P. Lehnerinflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap  barang-barang  dalam  perekonomian  secara  keseluruhan.  Ahli  yang lain  yaitu Ackley memberi pengertian inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat).

Sedangkan  menurut  Boediono,  inflasi  sebagai  kecenderungan  dari  harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja   tidak  dapat  disebut   inflasi,  kecuali  bila  kenaikan   tersebut  meluas  kepada   atau mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain.

Inflasi  dapat  di  artikan  sebagai  suatu  proses  meningkatnya  harga-harga  secara umum dan terus-menerus atau inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga.  Artinya,   tingkat  harga  yang  dianggap   tinggi  belum   tentu  menunjukkan   inflasi.

Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling
pengaruh-mempengaruhi.

Pengertian Informasi

Posted: 10 Feb 2012 07:56 PM PST

Pengertian informasi - Pengertian pengertian informasi apa itu pengertian informasi definisi atau pengertian informasi adalah informasi pengertian informasi adalah pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi.

Secara Etimologi, Informasi berasal dari bahasa Perancis kuno informacion (tahun 1387) yang diambil dari bahasa Latin informationem yang berarti "garis besar, konsep, ide". Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam "pengetahuan yang dikomunikasikan".

Informasi Juga dapat diartikan sebagai data yang telah di olah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.

Dijelaskan oleh George R. Terry, Ph. D.  bahwa informasi adalah data yang penting yang memberikan pengetahuan yang berguna.

Menurut Gordon B. Davis, informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan yang akan datang.


Demikian artikel tentang Belajar SEO ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Belajar SEO ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.