Belajar SEO |
- Berita Terbaru Kim Hyun Joong Meninggal Bunuh Diri
- TKW Dipancung
- Ruyati Binti Satubi
- Ruyati
- Ruyati Satubi
- Berita Kim Hyun Joong Meninggal
| Berita Terbaru Kim Hyun Joong Meninggal Bunuh Diri Posted: 20 Jun 2011 06:06 AM PDT Berita terbaru Kim Hyun Joong meninggal bunuh diri entah siapa dan situs mana yang menyebar berita Kim Hyun Joong meninggal bunuh diri ini namun di twitter berita Kim Hyun Joong meninggal ini banyak di cuapkan oleh tweeps, kontan saja para penggemar Kim Hyun Joong pada protes. Ya elah ada ada saja berita ini, Kim Hyung Joong bunuh diri? Baru saja beberapa jam yang lalu Kim datang ke Jakarta di twitter di kabarkan Kim Hyung Joong bunuh diri nggak abis pikir nih dunia maya cepet amit bikin berita. Yah yang namanya dunia maya cepat bak kilat petir yang menyambar di siang bolong, bagaimana gak bolong, berita bohong membuat kita bengong, kan jadi pada linglung semua. Hahaha. Trus siapa yang bisa dipercaya? Nggak tau lah Gelap. Eits, tapi bisa jadi mungkin saja berita ini, Kim Hyong Joong bunuh diri siapa tahu kemaren pas konser doi nggak lagi tahan ma kehidupannya dan mengakhiri hidupnya. Ya, buat teman-teman yang mencari informasi tentang berita ini, mungkin berita ini hanyalah berita Parodi atau lelucon yang di koarkan oleh "Joker" ya biasalah biar hidup lebih berwarna. Ya kalau urusan meninggal itukan pasti tapi waktunya ini lho yang bikin kita rada gmana gitu, kalau mendengarnya apalagi yang digosipkan mati (bahasa kasarnya) orang yang diidolakan, kan bikin gmana gitu lagi. So, yang buat berita, cari dululah sumber yang terpercaya, jangan asal main post berita aja, tapi seru juga sih bisa mengingatkan akan kematian, emang mati itu gak pandang bulu ya? ^_^ This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Posted: 20 Jun 2011 05:59 AM PDT Tkw dipancung TKW dihukum pancung Ruyati tkw dipancung di Arab Saudi laporan koran Tempo Ruyati binti satubi tkw dipancung telah dieksekusi berita tkw dipancung ini datang dari Arab Saudi. Tenaga kerja wanita asal Indonesia telah dieksekusi pancung di Arab Saudi pada Sabtu pekan lalu. Situs alriyadh.com menulis, Ruyati binti Saboti Saruna dipancung di Mekah lantaran terbukti bersalah membunuh wanita Saudi, Khairiya binti Hamid Mijlid. "Wanita Indonesia itu mengakui kejahatannya," begitu pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi. Menurut laporan Arab News, tindak kejahatan tersebut terjadi satu setengah tahun lalu. "Polisi menangkap wanita itu tak lama setelah kejahatan dan setelah investigasi, kasus dirujuk ke Pengadilan Syariah, yang memvonisnya hukuman mati. Putusan itu lalu disetujui oleh Pengadilan Banding," demikian menurut kementerian tersebut. Di persidangan, Ruyati mengakui membunuh majikan perempuannya itu dengan pisau dapur. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengecam pemerintah Arab Saudi karena tidak memberitahukan jadwal eksekusi. "Kami mengecam dan menyayangkan pemerintah Arab Saudi mengabaikan hukum internasional," ujarnya kepada Tempo kemarin. Pemerintah mengucapkan turut berduka cita kepada keluarga almarhumah. Anggota Komisi Tenaga Kerja Dewan Perwakilan Rakyat, Rieke Diah Pitaloka, menilai pemerintah kerap terlambat. Bagi politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, banyaknya kasus yang terjadi tidak lekas membuat pemerintah berbenah, sehingga terlihat selalu telat. "Pemerintah tahunya kalau sudah menjadi korban, mati, baru ada aksi," ujarnya. Hal itu dibantah Marty. "Kami terus memberi perlindungan dan mendampinginya dalam proses persidangan sejak awal, kasasi, sampai tahap pengampunan," tuturnya. "Pemerintah akan memanggil Duta Besar RI di Riyadh dan akan meminta keterangan Duta Besar Arab Saudi di Jakarta besok (hari ini)." Februari lalu, Darsem binti Dawud Tawar lolos dari eksekusi dan diganti dengan kewajiban membayar 2 juta riyal (Rp 4,5 miliar). Keluarga korban bersedia memberi maaf kepada Darsem dengan kompensasi uang. Sumbangan pemerintah dan masyarakat akhirnya terkumpul untuk membayar ganti rugi itu. Migrant Care mendesak pemerintah berupaya keras membebaskan semua TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Eksekusi pancung terhadap Ruyati dinilai mesti dijadikan titik tolak pemerintah. "Posisi pemerintah harus minta mereka dibebaskan dari hukuman mati," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah. Saat ini tercatat 23 warga Indonesia terancam hukuman mati di negeri kaya minyak itu. Proses hukumnya sedang berlangsung. "Kita selama ini terlalu pasrah pada proses hukum (di sana)," ujar Anis. Jika pengadilan tertinggi sudah menjatuhkan vonis tetap, berarti upaya hukum sudah habis. Cara terakhir adalah jalur diplomasi untuk memohonkan pengampunan sebelum pembacaan eksekusi. "Seharusnya diplomasi dilakukan di waktu itu untuk mendapat pengampunan." This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Posted: 20 Jun 2011 05:51 AM PDT Ruyati binti satubi TKW dihukum pancung Ruyati binti binti satubi laporan koran Tempo Ruyati binti satubi dieksekusi berita Ruyati binti satubi dieksekusi ini datang dari Arab Saudi. Tenaga kerja wanita asal Indonesia telah dieksekusi pancung di Arab Saudi pada Sabtu pekan lalu. Situs alriyadh.com menulis, Ruyati binti Satubi Saruna dipancung di Mekah lantaran terbukti bersalah membunuh wanita Saudi, Khairiya binti Hamid Mijlid. "Wanita Indonesia itu mengakui kejahatannya," begitu pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi. Menurut laporan Arab News, tindak kejahatan tersebut terjadi satu setengah tahun lalu. "Polisi menangkap wanita itu tak lama setelah kejahatan dan setelah investigasi, kasus dirujuk ke Pengadilan Syariah, yang memvonisnya hukuman mati. Putusan itu lalu disetujui oleh Pengadilan Banding," demikian menurut kementerian tersebut. Di persidangan, Ruyati mengakui membunuh majikan perempuannya itu dengan pisau dapur. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengecam pemerintah Arab Saudi karena tidak memberitahukan jadwal eksekusi. "Kami mengecam dan menyayangkan pemerintah Arab Saudi mengabaikan hukum internasional," ujarnya kepada Tempo kemarin. Pemerintah mengucapkan turut berduka cita kepada keluarga almarhumah. Anggota Komisi Tenaga Kerja Dewan Perwakilan Rakyat, Rieke Diah Pitaloka, menilai pemerintah kerap terlambat. Bagi politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, banyaknya kasus yang terjadi tidak lekas membuat pemerintah berbenah, sehingga terlihat selalu telat. "Pemerintah tahunya kalau sudah menjadi korban, mati, baru ada aksi," ujarnya. Hal itu dibantah Marty. "Kami terus memberi perlindungan dan mendampinginya dalam proses persidangan sejak awal, kasasi, sampai tahap pengampunan," tuturnya. "Pemerintah akan memanggil Duta Besar RI di Riyadh dan akan meminta keterangan Duta Besar Arab Saudi di Jakarta besok (hari ini)." Februari lalu, Darsem binti Dawud Tawar lolos dari eksekusi dan diganti dengan kewajiban membayar 2 juta riyal (Rp 4,5 miliar). Keluarga korban bersedia memberi maaf kepada Darsem dengan kompensasi uang. Sumbangan pemerintah dan masyarakat akhirnya terkumpul untuk membayar ganti rugi itu. Migrant Care mendesak pemerintah berupaya keras membebaskan semua TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Eksekusi pancung terhadap Ruyati dinilai mesti dijadikan titik tolak pemerintah. "Posisi pemerintah harus minta mereka dibebaskan dari hukuman mati," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah. Saat ini tercatat 23 warga Indonesia terancam hukuman mati di negeri kaya minyak itu. Proses hukumnya sedang berlangsung. "Kita selama ini terlalu pasrah pada proses hukum (di sana)," ujar Anis. Jika pengadilan tertinggi sudah menjatuhkan vonis tetap, berarti upaya hukum sudah habis. Cara terakhir adalah jalur diplomasi untuk memohonkan pengampunan sebelum pembacaan eksekusi. "Seharusnya diplomasi dilakukan di waktu itu untuk mendapat pengampunan." This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Posted: 19 Jun 2011 09:41 PM PDT Ruyati TKW dihukum pancung Ruyati binti Saboti laporan koran Tempo Ruyati dieksekusi berita Ruyati dieksekusi ini datang dari Arab Saudi. Tenaga kerja wanita asal Indonesia telah dieksekusi pancung di Arab Saudi pada Sabtu pekan lalu. Situs alriyadh.com menulis, Ruyati binti Saboti Saruna dipancung di Mekah lantaran terbukti bersalah membunuh wanita Saudi, Khairiya binti Hamid Mijlid. "Wanita Indonesia itu mengakui kejahatannya," begitu pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi. Menurut laporan Arab News, tindak kejahatan tersebut terjadi satu setengah tahun lalu. "Polisi menangkap wanita itu tak lama setelah kejahatan dan setelah investigasi, kasus dirujuk ke Pengadilan Syariah, yang memvonisnya hukuman mati. Putusan itu lalu disetujui oleh Pengadilan Banding," demikian menurut kementerian tersebut. Di persidangan, Ruyati mengakui membunuh majikan perempuannya itu dengan pisau dapur. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengecam pemerintah Arab Saudi karena tidak memberitahukan jadwal eksekusi. "Kami mengecam dan menyayangkan pemerintah Arab Saudi mengabaikan hukum internasional," ujarnya kepada Tempo kemarin. Pemerintah mengucapkan turut berduka cita kepada keluarga almarhumah. Anggota Komisi Tenaga Kerja Dewan Perwakilan Rakyat, Rieke Diah Pitaloka, menilai pemerintah kerap terlambat. Bagi politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, banyaknya kasus yang terjadi tidak lekas membuat pemerintah berbenah, sehingga terlihat selalu telat. "Pemerintah tahunya kalau sudah menjadi korban, mati, baru ada aksi," ujarnya. Hal itu dibantah Marty. "Kami terus memberi perlindungan dan mendampinginya dalam proses persidangan sejak awal, kasasi, sampai tahap pengampunan," tuturnya. "Pemerintah akan memanggil Duta Besar RI di Riyadh dan akan meminta keterangan Duta Besar Arab Saudi di Jakarta besok (hari ini)." Februari lalu, Darsem binti Dawud Tawar lolos dari eksekusi dan diganti dengan kewajiban membayar 2 juta riyal (Rp 4,5 miliar). Keluarga korban bersedia memberi maaf kepada Darsem dengan kompensasi uang. Sumbangan pemerintah dan masyarakat akhirnya terkumpul untuk membayar ganti rugi itu. Migrant Care mendesak pemerintah berupaya keras membebaskan semua TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Eksekusi pancung terhadap Ruyati dinilai mesti dijadikan titik tolak pemerintah. "Posisi pemerintah harus minta mereka dibebaskan dari hukuman mati," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah. Saat ini tercatat 23 warga Indonesia terancam hukuman mati di negeri kaya minyak itu. Proses hukumnya sedang berlangsung. "Kita selama ini terlalu pasrah pada proses hukum (di sana)," ujar Anis. Jika pengadilan tertinggi sudah menjatuhkan vonis tetap, berarti upaya hukum sudah habis. Cara terakhir adalah jalur diplomasi untuk memohonkan pengampunan sebelum pembacaan eksekusi. "Seharusnya diplomasi dilakukan di waktu itu untuk mendapat pengampunan." This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Posted: 19 Jun 2011 09:37 PM PDT Ruyati satubi TKW dihukum pancung Ruyati satubi laporan koran Tempo Ruyati satubi berita duka ini datang dari Arab Saudi. Tenaga kerja wanita asal Indonesia telah dieksekusi pancung di Arab Saudi pada Sabtu pekan lalu. Situs alriyadh.com menulis, Ruyati binti Saboti Saruna dipancung di Mekah lantaran terbukti bersalah membunuh wanita Saudi, Khairiya binti Hamid Mijlid. "Wanita Indonesia itu mengakui kejahatannya," begitu pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi. Menurut laporan Arab News, tindak kejahatan tersebut terjadi satu setengah tahun lalu. "Polisi menangkap wanita itu tak lama setelah kejahatan dan setelah investigasi, kasus dirujuk ke Pengadilan Syariah, yang memvonisnya hukuman mati. Putusan itu lalu disetujui oleh Pengadilan Banding," demikian menurut kementerian tersebut. Di persidangan, Ruyati mengakui membunuh majikan perempuannya itu dengan pisau dapur. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengecam pemerintah Arab Saudi karena tidak memberitahukan jadwal eksekusi. "Kami mengecam dan menyayangkan pemerintah Arab Saudi mengabaikan hukum internasional," ujarnya kepada Tempo kemarin. Pemerintah mengucapkan turut berduka cita kepada keluarga almarhumah. Anggota Komisi Tenaga Kerja Dewan Perwakilan Rakyat, Rieke Diah Pitaloka, menilai pemerintah kerap terlambat. Bagi politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini, banyaknya kasus yang terjadi tidak lekas membuat pemerintah berbenah, sehingga terlihat selalu telat. "Pemerintah tahunya kalau sudah menjadi korban, mati, baru ada aksi," ujarnya. Hal itu dibantah Marty. "Kami terus memberi perlindungan dan mendampinginya dalam proses persidangan sejak awal, kasasi, sampai tahap pengampunan," tuturnya. "Pemerintah akan memanggil Duta Besar RI di Riyadh dan akan meminta keterangan Duta Besar Arab Saudi di Jakarta besok (hari ini)." Februari lalu, Darsem binti Dawud Tawar lolos dari eksekusi dan diganti dengan kewajiban membayar 2 juta riyal (Rp 4,5 miliar). Keluarga korban bersedia memberi maaf kepada Darsem dengan kompensasi uang. Sumbangan pemerintah dan masyarakat akhirnya terkumpul untuk membayar ganti rugi itu. Migrant Care mendesak pemerintah berupaya keras membebaskan semua TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Eksekusi pancung terhadap Ruyati dinilai mesti dijadikan titik tolak pemerintah. "Posisi pemerintah harus minta mereka dibebaskan dari hukuman mati," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah. Saat ini tercatat 23 warga Indonesia terancam hukuman mati di negeri kaya minyak itu. Proses hukumnya sedang berlangsung. "Kita selama ini terlalu pasrah pada proses hukum (di sana)," ujar Anis. Jika pengadilan tertinggi sudah menjatuhkan vonis tetap, berarti upaya hukum sudah habis. Cara terakhir adalah jalur diplomasi untuk memohonkan pengampunan sebelum pembacaan eksekusi. "Seharusnya diplomasi dilakukan di waktu itu untuk mendapat pengampunan." This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Berita Kim Hyun Joong Meninggal Posted: 19 Jun 2011 09:11 PM PDT Berita Kim Hyun Joong meninggal entah siapa dan situs mana yang menyebar berita Kim Hyun Joong meninggal namun di twitter berita Kim Hyun Joong meninggal ini banyak di cuapkan oleh tweeps, kontan saja para penggemar Kim Hyun Joong pada protes. Ya elah ada ada saja berita ini, Kim Hyung Joong bunuh diri baru saja beberapa jam yang lalu Kim datang ke Jakarta di twitter di kabarkan Kim Hyung Joong bunuh diri nggak abis pikir nih dunia maya cepet amit bikin berita. Yah yang namanya dunia maya cepat bak kilat petir yang menyambar di siang bolong, bagaimana gak bolong, berita bohong membuat kita bengong, kan jadi pada linglung semua. Hahaha. Trus siapa yang bisa dipercaya? Nggak tau lah Gelap. Eits, tapi bisa jadi mungkin saja berita ini, Kim Hyong Joong bunuh diri siapa tahu kemaren pas konser doi nggak lagi tahan ma kehidupannya dan mengakhiri hidupnya. Ya, buat teman-teman yang mencari informasi tentang berita ini, mungkin berita ini hanyalah berita Parodi atau lelucon yang di koarkan oleh "Joker" ya biasalah biar hidup lebih berwarna. Ya kalau urusan meninggal itukan pasti tapi waktunya ini lho yang bikin kita rada gmana gitu, kalau mendengarnya apalagi yang digosipkan mati (bahasa kasarnya) orang yang diidolakan, kan bikin gmana gitu lagi. So, yang buat berita, cari dululah sumber yang terpercaya, jangan asal main post berita aja, tapi seru juga sih bisa mengingatkan akan kematian, emang mati itu gak pandang bulu ya? ^_^ This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| You are subscribed to email updates from Berbagi ilmu To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Demikian artikel tentang Belajar SEO ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Belajar SEO ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

