Belajar SEO |
| Posted: 21 Jun 2011 05:28 AM PDT Frans pemain musik sisir bermain musik dengan menggunakan sisir Frans "Sisir" Rumbino panggilan akrabnya telah Menjelajah dunia dengan musik sisir, kepalanya plonthos (gundul), tapi ke mana-mana ia selalu membawa sisir yang terselip di saku celananya. Untuk apa gerangan? Sisir yang biasa kita pakai untuk mempercantik diri dibalut dengan "tas kresek" oleh Frans disulap menjadi alat musik menarik! Bakatnya terbilang langka. Bermusik dengan sisir dan kantong plastik "kresek". Benda murah dan sederhana yang jamak kita pakai sehari-hari. Namun di tangan Mesakh Frans Rumbino, kedua benda itu mampu menghasilkan alunan musik menarik. Mirip suara saksofon yang mendayu-dayu dan trombone yang riang. Ia lantas dikenal dengan Frans Sisir. Kemahirannya bermusik dengan sisir telah mengantarnya keliling dunia dan bermain di depan kepala-kepala negara. Kemampuan Frans bermusik dengan sisir dan plastik terbilang unik. Prosesnya pun tak kalah menarik. Kendati sejak kecil su-dah ditinggalkan orangtuanya, Frans kecil tak kehilangan keceriaan. "Keluarga saya broken home. Saya tinggal bersama kakek Robert dan nenek Alexanderina. Sejak kecil saya biasa mencari ikan untuk membantu kebutuhan keluarga," tutur pria kelahiran Padaido, Biak Timur, 11 Februari 1972 ini. Sepulang mencari ikan, Frans suka meniup daun atau kulit kerang, mendendangkan lagu-lagu kampung, seperti Apuse, dll. Dari kebiasaan meniup daun dan kerang itu, secara tak sengaja Frans bereksplorasi dengan sisir dan kantong plastik. Ceritanya, sebagai Putra Biak, Frans ingin mendukung kesebelasan kesayangannya, PSB Biak, ketika ada pertandingan sepak bola dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) di Jayapura. Namun, karena kala itu hanya ada sisir dan kantong plastik, Frans memanfaatkan kedua benda tersebut untuk menyemangati kesebelasan kesayangannya. Tak disangka, dari situlah ia mulai menyukai dan mendalaminya hingga dapat memainkannya dengan piawai. "Awalnya cuma coba-coba saja meniup sisir yang saya bungkus dengan kantong plastik kresek," ujar Frans. Semula, suaranya lurus "tet..tet ...tet..."saja. Dari situlah keluar ide untuk dipakai bermusik. Ia pun terus melatih kemampuannya meniup sisir. Mengasah talenta memang membutuhkan waktu yang lama.Awalnya tak mudah dan tidak berjalan mulus. Ia sering diolok-olok teman-temannya. Banyak tanta walaupun ada tantangan. Setiap kebaktian Jumat di SMP saya juga nyanyi dengan sisir dan plastik," ucap Frans. Di balik talenta uniknya, kehidupan Frans tak kalah seru pula. Hidup menjelajah dari satu kota ke kota lain dengan keringat dan airmata. Pindah ke Jayapura, terpisah dari orangtua Frans harus berjuang agar dapat terus menyambung hidup. "Saya hidup di pasar dan terminal. Jadi kenek, kondektur, juga membantu mengangkat belanjaan orang. Meski susah, Tuhan itu baik. Dia tidak pernah melupakan anak-anak-Nya," ujar sulung dari 6 bersaudara ini. Sekolahnya pun pindah-pindah, dari Jayapura, Blitar, Jakarta, dan kembali ke Jayapura hingga lulus SMP tahun 1988. Karena prestasinya di sekolah, Frans mendapatkan beasiswa bersekolah di SMAN 8 Malang. Di kota kecil ini ada bakat lain yang ia kembangkan. Bermain bola. Menempati posisi striker, Frans sering tampil membela kesebelasan klubnya. Hasilnya? Boleh juga. "Waktu itu dapat 20-25 ribu (rupiah) tiap kali main. Sudah gedhe. Kost-kostan aja cuma 30-40 ribu," ujarnya. Akibatnya waktu untuk bermusik memang berkurang. Lulus SMA, Frans kembali hijrah ke Jakarta. Ia masuk di Fisipol UKI. Cita-citanya jadi diplomat. Namun karena terbentur biaya Frans mengadu nasib dengan menjadi penyanyi night club di kawasan Ancol hingga 3 tahun. Frans yang tergabung sebagai anggota Pemuda Pancasila ini juga sempat bekerja menjadi debt collector dan masuk dalam kehidupan yang keras. Cita-citanya pun kandas. Akibat pekerjaannya yang nyerempet bahaya, tahun 1999 Frans sempat mencicipi dinginnya dinding penjara Polda Metro Jaya. "Saya kena 4 bulan. Waktu itu anak pertama saya, Anelo, baru berusia satu bulan," kenang ayah dari Anelo, Kezia, dan Lydia ini. Setelah dua bulan di penjara Polda, Frans dipindah ke LP Cipinang. Hidup di rutan membuatnya me-nyadari kasih Tuhan. "Hidup saya hancur, tapi Tuhan beri kekuatan untuk bersaksi. Saya pikir hidup keras itu sia-sia," katanya. Ia lantas mengajak teman-teman sesama tahanan menyikapi hidup secara positif. "Saya tetap merasakan kasih Tuhan di dalam LP. Saya ajak mereka olah raga, main musik, dan memuji Tuhan," imbuhnya. Dalam tahanan iman Frans semakin tumbuh dan berkembang. Di LP Cipinang Frans juga pelayanan bersama Xanana Gusmao, mantan presiden dan kini perdana menteri Timor Leste. "Saya teman satu sel dengan Xanana. Kami sama-sama pelayanan di LP," lanjutnya. Lagu-lagu rohani dan alunan musik sisir dan plastik dari mulut Frans mampu menjadikan spirit bagi dirinya dan teman-teman sesama penghuni LP. Berbagai aktivitas, pelayanan, dan sikap positif yang ditunjukkan Frans selama di LP berganjar citra teladan. "Saya keluar dengan status napi terbaik," ungkapnya. Lepas dari LP, Frans terpanggil terjun dalam pelayanan. Kemampuan musikalitas Frans dalam bernyanyi dan meniup sisir berbalut plastik menjadi komoditi yang tak ternilai. Lengkingan saksofon yang dihasilkan banyak mengundang decak kagum pengunjung setiap ia tampil. Bukan hanya di panggung gereja. Frans juga diundang bernyanyi dan bermusik di berbagai acara. Peresmian acara, ulang tahun instansi dan pribadi hingga Lebaran pula. Banyak petinggi negara yang mengagumi bakat uniknya. Mantan Presiden Soeharto, Megawati, juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sultan Hassanal Bolkiah dibuatnya terpesona. Ada kisah unik ketika Frans melakukan live performance di keluarga Cendana. "Saya pinjam sisir Pak Harto untuk membuktikan pakai sisir apa saja saya bisa," ujar Frans yang ketika itu memainkan lagu Sio Mama. Ternyata, kata Frans, sisir milik mantan penguasa RI selama 32 tahun itu mampu menghasilkan suara lebih merdu. Tahun 2003 ke atas hidup Frans lebih banyak untuk pelayanan. Ken-dati demikian, bukan berarti semua berjalan baik. Ada saja orang yang mengambil keuntungan dari bakatnya. Ia sempat merasakan pengkhianatan oleh teman-temannya sesama asal Papua. Mulanya diajak rekaman, tapi akhirnya rekamannya dibajak. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya dalam melayani Tuhan. Tahun 2005 Frans mendapat kesempatan pelayanan di Amerika. Meski demikian, untuk mendapatkan visa ke Amrik tidak mudah. Ketika staf kedubes AS menanyakan tujuannya ke Amerika, ia jawab bermain musik. Mereka heran. "Saya keluarkan sisir dan plastik lalu nyanyi Amazing Grace," ujarnya. Terpukau dengan nada indah kreasi Frans, mereka pun memberinya visa untuk 5 tahun! Di negeri Paman Sam ini, Frans pelayanan keliling New Jersey, new York, Philadelphia, Boston, Atlanta, dll. Ada kejadian unik ketika Frans bersama rombongan tur ke pelataran patung Liberty. Kagum dengan gedung pencakar langit dan megahnya patung Liberty, Frans lantas mengeluarkan sisir dan kantong plastiknya dan bermain memuji Tuhan. Sementara ia asyik dengan "alat musik"nya recehan dan lembaran dolar menghampiri. "Wah, saya dikira ngamen. Lumayan juga ada 80 dolaran," kenangnya. Dengan sisir pula Frans telah berkelana ke Italia, Perancis, dan Belanda. Bagaimana Frans bisa menghasilkan suara dahsyat bak permainan saksofon Kenny G. hanya dari sisir dan kantong kresek? Apakah semua sisir dan kantong plastik bisa dipakai? "Pada dasarnya semua sisir dan plastik bisa. Tapi lebih bagus kalau sisirnya agak lembut dan plastiknya tipis. Saya meniupnya pakai perasaan," ujarnya. Bunyi saksofon yang keluar dari sisir dan plastik kresek berasal dari paduan antara napas perut yang sudah terlatih dengan suara vibrasi plastik. Apa sih kesulitannya? "Sama seperti peniup pada umumnya, kalau napasnya pendek ya tidak bisa. Butuh napas panjang," ungkapnya. Kendati bakatnya terbilang langka, Frans tidak berambisi memasukkan dalam catatan rekor tertentu. "Tujuan saya bukan untuk mendapatkan penghargaan, tapi bagaimana nama Tuhan dimuliakan. Saya berharap dapat keliling dunia dengan sisir dan plastik bagi Tuhan Yesus. Saya berdoa supaya orang diberkati dan jadi kesaksian bahwa sisir dan plastik dapat memuliakan Tuhan," tandasnya. Dulu, lanjutnya, Tuhan pakai tukang kayu, nelayan, dsb. Saya bangga karena saya dulu nelayan. Saya percaya Anda lebih dari sisir. Keterbatasan tak harus membatasi kita dalam berkreativitas. Frans telah membuktikan. Merangkai melodi nan harmoni dari benda sederhana untuk membawakan nyanyian yang sarat pesan. This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Posted: 21 Jun 2011 05:24 AM PDT Frans Rumbino info yang anda cari Frans Rumbino adalah mengenai Frans Rumbino baca dan silahkan lihat Frans Rumbino kunjungi lihat Frans Rumbino link-link yang berkaitan dengan "Frans Rumbino" dan ayo "Belajarlah Selama Udara Masih Bisa Kau Hirup" Frans "Sisir" Rumbino - Menjelajah dunia dengan musik sisir, kepalanya plonthos (gundul), tapi ke mana-mana ia selalu membawa sisir yang terselip di saku celananya. Untuk apa gerangan? Sisir yang biasa kita pakai untuk mempercantik diri dibalut dengan "tas kresek" oleh Frans disulap menjadi alat musik menarik! Bakatnya terbilang langka. Bermusik dengan sisir dan kantong plastik "kresek". Benda murah dan sederhana yang jamak kita pakai sehari-hari. Namun di tangan Mesakh Frans Rumbino, kedua benda itu mampu menghasilkan alunan musik menarik. Mirip suara saksofon yang mendayu-dayu dan trombone yang riang. Ia lantas dikenal dengan Frans Sisir. Kemahirannya bermusik dengan sisir telah mengantarnya keliling dunia dan bermain di depan kepala-kepala negara. Kemampuan Frans bermusik dengan sisir dan plastik terbilang unik. Prosesnya pun tak kalah menarik. Kendati sejak kecil su-dah ditinggalkan orangtuanya, Frans kecil tak kehilangan keceriaan. "Keluarga saya broken home. Saya tinggal bersama kakek Robert dan nenek Alexanderina. Sejak kecil saya biasa mencari ikan untuk membantu kebutuhan keluarga," tutur pria kelahiran Padaido, Biak Timur, 11 Februari 1972 ini. Sepulang mencari ikan, Frans suka meniup daun atau kulit kerang, mendendangkan lagu-lagu kampung, seperti Apuse, dll. Dari kebiasaan meniup daun dan kerang itu, secara tak sengaja Frans bereksplorasi dengan sisir dan kantong plastik. Ceritanya, sebagai Putra Biak, Frans ingin mendukung kesebelasan kesayangannya, PSB Biak, ketika ada pertandingan sepak bola dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) di Jayapura. Namun, karena kala itu hanya ada sisir dan kantong plastik, Frans memanfaatkan kedua benda tersebut untuk menyemangati kesebelasan kesayangannya. Tak disangka, dari situlah ia mulai menyukai dan mendalaminya hingga dapat memainkannya dengan piawai. "Awalnya cuma coba-coba saja meniup sisir yang saya bungkus dengan kantong plastik kresek," ujar Frans. Semula, suaranya lurus "tet..tet ...tet..."saja. Dari situlah keluar ide untuk dipakai bermusik. Ia pun terus melatih kemampuannya meniup sisir. Mengasah talenta memang membutuhkan waktu yang lama.Awalnya tak mudah dan tidak berjalan mulus. Ia sering diolok-olok teman-temannya. Banyak tanta walaupun ada tantangan. Setiap kebaktian Jumat di SMP saya juga nyanyi dengan sisir dan plastik," ucap Frans. Di balik talenta uniknya, kehidupan Frans tak kalah seru pula. Hidup menjelajah dari satu kota ke kota lain dengan keringat dan airmata. Pindah ke Jayapura, terpisah dari orangtua Frans harus berjuang agar dapat terus menyambung hidup. "Saya hidup di pasar dan terminal. Jadi kenek, kondektur, juga membantu mengangkat belanjaan orang. Meski susah, Tuhan itu baik. Dia tidak pernah melupakan anak-anak-Nya," ujar sulung dari 6 bersaudara ini. Sekolahnya pun pindah-pindah, dari Jayapura, Blitar, Jakarta, dan kembali ke Jayapura hingga lulus SMP tahun 1988. Karena prestasinya di sekolah, Frans mendapatkan beasiswa bersekolah di SMAN 8 Malang. Di kota kecil ini ada bakat lain yang ia kembangkan. Bermain bola. Menempati posisi striker, Frans sering tampil membela kesebelasan klubnya. Hasilnya? Boleh juga. "Waktu itu dapat 20-25 ribu (rupiah) tiap kali main. Sudah gedhe. Kost-kostan aja cuma 30-40 ribu," ujarnya. Akibatnya waktu untuk bermusik memang berkurang. Lulus SMA, Frans kembali hijrah ke Jakarta. Ia masuk di Fisipol UKI. Cita-citanya jadi diplomat. Namun karena terbentur biaya Frans mengadu nasib dengan menjadi penyanyi night club di kawasan Ancol hingga 3 tahun. Frans yang tergabung sebagai anggota Pemuda Pancasila ini juga sempat bekerja menjadi debt collector dan masuk dalam kehidupan yang keras. Cita-citanya pun kandas. Akibat pekerjaannya yang nyerempet bahaya, tahun 1999 Frans sempat mencicipi dinginnya dinding penjara Polda Metro Jaya. "Saya kena 4 bulan. Waktu itu anak pertama saya, Anelo, baru berusia satu bulan," kenang ayah dari Anelo, Kezia, dan Lydia ini. Setelah dua bulan di penjara Polda, Frans dipindah ke LP Cipinang. Hidup di rutan membuatnya me-nyadari kasih Tuhan. "Hidup saya hancur, tapi Tuhan beri kekuatan untuk bersaksi. Saya pikir hidup keras itu sia-sia," katanya. Ia lantas mengajak teman-teman sesama tahanan menyikapi hidup secara positif. "Saya tetap merasakan kasih Tuhan di dalam LP. Saya ajak mereka olah raga, main musik, dan memuji Tuhan," imbuhnya. Dalam tahanan iman Frans semakin tumbuh dan berkembang. Di LP Cipinang Frans juga pelayanan bersama Xanana Gusmao, mantan presiden dan kini perdana menteri Timor Leste. "Saya teman satu sel dengan Xanana. Kami sama-sama pelayanan di LP," lanjutnya. Lagu-lagu rohani dan alunan musik sisir dan plastik dari mulut Frans mampu menjadikan spirit bagi dirinya dan teman-teman sesama penghuni LP. Berbagai aktivitas, pelayanan, dan sikap positif yang ditunjukkan Frans selama di LP berganjar citra teladan. "Saya keluar dengan status napi terbaik," ungkapnya. Lepas dari LP, Frans terpanggil terjun dalam pelayanan. Kemampuan musikalitas Frans dalam bernyanyi dan meniup sisir berbalut plastik menjadi komoditi yang tak ternilai. Lengkingan saksofon yang dihasilkan banyak mengundang decak kagum pengunjung setiap ia tampil. Bukan hanya di panggung gereja. Frans juga diundang bernyanyi dan bermusik di berbagai acara. Peresmian acara, ulang tahun instansi dan pribadi hingga Lebaran pula. Banyak petinggi negara yang mengagumi bakat uniknya. Mantan Presiden Soeharto, Megawati, juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sultan Hassanal Bolkiah dibuatnya terpesona. Ada kisah unik ketika Frans melakukan live performance di keluarga Cendana. "Saya pinjam sisir Pak Harto untuk membuktikan pakai sisir apa saja saya bisa," ujar Frans yang ketika itu memainkan lagu Sio Mama. Ternyata, kata Frans, sisir milik mantan penguasa RI selama 32 tahun itu mampu menghasilkan suara lebih merdu. Tahun 2003 ke atas hidup Frans lebih banyak untuk pelayanan. Ken-dati demikian, bukan berarti semua berjalan baik. Ada saja orang yang mengambil keuntungan dari bakatnya. Ia sempat merasakan pengkhianatan oleh teman-temannya sesama asal Papua. Mulanya diajak rekaman, tapi akhirnya rekamannya dibajak. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya dalam melayani Tuhan. Tahun 2005 Frans mendapat kesempatan pelayanan di Amerika. Meski demikian, untuk mendapatkan visa ke Amrik tidak mudah. Ketika staf kedubes AS menanyakan tujuannya ke Amerika, ia jawab bermain musik. Mereka heran. "Saya keluarkan sisir dan plastik lalu nyanyi Amazing Grace," ujarnya. Terpukau dengan nada indah kreasi Frans, mereka pun memberinya visa untuk 5 tahun! Di negeri Paman Sam ini, Frans pelayanan keliling New Jersey, new York, Philadelphia, Boston, Atlanta, dll. Ada kejadian unik ketika Frans bersama rombongan tur ke pelataran patung Liberty. Kagum dengan gedung pencakar langit dan megahnya patung Liberty, Frans lantas mengeluarkan sisir dan kantong plastiknya dan bermain memuji Tuhan. Sementara ia asyik dengan "alat musik"nya recehan dan lembaran dolar menghampiri. "Wah, saya dikira ngamen. Lumayan juga ada 80 dolaran," kenangnya. Dengan sisir pula Frans telah berkelana ke Italia, Perancis, dan Belanda. Bagaimana Frans bisa menghasilkan suara dahsyat bak permainan saksofon Kenny G. hanya dari sisir dan kantong kresek? Apakah semua sisir dan kantong plastik bisa dipakai? "Pada dasarnya semua sisir dan plastik bisa. Tapi lebih bagus kalau sisirnya agak lembut dan plastiknya tipis. Saya meniupnya pakai perasaan," ujarnya. Bunyi saksofon yang keluar dari sisir dan plastik kresek berasal dari paduan antara napas perut yang sudah terlatih dengan suara vibrasi plastik. Apa sih kesulitannya? "Sama seperti peniup pada umumnya, kalau napasnya pendek ya tidak bisa. Butuh napas panjang," ungkapnya. Kendati bakatnya terbilang langka, Frans tidak berambisi memasukkan dalam catatan rekor tertentu. "Tujuan saya bukan untuk mendapatkan penghargaan, tapi bagaimana nama Tuhan dimuliakan. Saya berharap dapat keliling dunia dengan sisir dan plastik bagi Tuhan Yesus. Saya berdoa supaya orang diberkati dan jadi kesaksian bahwa sisir dan plastik dapat memuliakan Tuhan," tandasnya. Dulu, lanjutnya, Tuhan pakai tukang kayu, nelayan, dsb. Saya bangga karena saya dulu nelayan. Saya percaya Anda lebih dari sisir. Keterbatasan tak harus membatasi kita dalam berkreativitas. Frans telah membuktikan. Merangkai melodi nan harmoni dari benda sederhana untuk membawakan nyanyian yang sarat pesan. This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Posted: 21 Jun 2011 05:17 AM PDT Frans "sisir" Rumbino info yang anda cari Frans "sisir" Rumbino adalah mengenai Frans "sisir" Rumbino baca dan silahkan lihat Frans "sisir" Rumbino kunjungi lihat Frans "sisir" Rumbino link-link yang berkaitan dengan "Frans "sisir" Rumbino" dan ayo "Belajarlah Selama Udara Masih Bisa Kau Hirup" Frans "Sisir" Rumbino - Menjelajah dunia dengan musik sisir, kepalanya plonthos (gundul), tapi ke mana-mana ia selalu membawa sisir yang terselip di saku celananya. Untuk apa gerangan? Sisir yang biasa kita pakai untuk mempercantik diri dibalut dengan "tas kresek" oleh Frans disulap menjadi alat musik menarik! Bakatnya terbilang langka. Bermusik dengan sisir dan kantong plastik "kresek". Benda murah dan sederhana yang jamak kita pakai sehari-hari. Namun di tangan Mesakh Frans Rumbino, kedua benda itu mampu menghasilkan alunan musik menarik. Mirip suara saksofon yang mendayu-dayu dan trombone yang riang. Ia lantas dikenal dengan Frans Sisir. Kemahirannya bermusik dengan sisir telah mengantarnya keliling dunia dan bermain di depan kepala-kepala negara. Kemampuan Frans bermusik dengan sisir dan plastik terbilang unik. Prosesnya pun tak kalah menarik. Kendati sejak kecil su-dah ditinggalkan orangtuanya, Frans kecil tak kehilangan keceriaan. "Keluarga saya broken home. Saya tinggal bersama kakek Robert dan nenek Alexanderina. Sejak kecil saya biasa mencari ikan untuk membantu kebutuhan keluarga," tutur pria kelahiran Padaido, Biak Timur, 11 Februari 1972 ini. Sepulang mencari ikan, Frans suka meniup daun atau kulit kerang, mendendangkan lagu-lagu kampung, seperti Apuse, dll. Dari kebiasaan meniup daun dan kerang itu, secara tak sengaja Frans bereksplorasi dengan sisir dan kantong plastik. Ceritanya, sebagai Putra Biak, Frans ingin mendukung kesebelasan kesayangannya, PSB Biak, ketika ada pertandingan sepak bola dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) di Jayapura. Namun, karena kala itu hanya ada sisir dan kantong plastik, Frans memanfaatkan kedua benda tersebut untuk menyemangati kesebelasan kesayangannya. Tak disangka, dari situlah ia mulai menyukai dan mendalaminya hingga dapat memainkannya dengan piawai. "Awalnya cuma coba-coba saja meniup sisir yang saya bungkus dengan kantong plastik kresek," ujar Frans. Semula, suaranya lurus "tet..tet ...tet..."saja. Dari situlah keluar ide untuk dipakai bermusik. Ia pun terus melatih kemampuannya meniup sisir. Mengasah talenta memang membutuhkan waktu yang lama.Awalnya tak mudah dan tidak berjalan mulus. Ia sering diolok-olok teman-temannya. Banyak tanta walaupun ada tantangan. Setiap kebaktian Jumat di SMP saya juga nyanyi dengan sisir dan plastik," ucap Frans. Di balik talenta uniknya, kehidupan Frans tak kalah seru pula. Hidup menjelajah dari satu kota ke kota lain dengan keringat dan airmata. Pindah ke Jayapura, terpisah dari orangtua Frans harus berjuang agar dapat terus menyambung hidup. "Saya hidup di pasar dan terminal. Jadi kenek, kondektur, juga membantu mengangkat belanjaan orang. Meski susah, Tuhan itu baik. Dia tidak pernah melupakan anak-anak-Nya," ujar sulung dari 6 bersaudara ini. Sekolahnya pun pindah-pindah, dari Jayapura, Blitar, Jakarta, dan kembali ke Jayapura hingga lulus SMP tahun 1988. Karena prestasinya di sekolah, Frans mendapatkan beasiswa bersekolah di SMAN 8 Malang. Di kota kecil ini ada bakat lain yang ia kembangkan. Bermain bola. Menempati posisi striker, Frans sering tampil membela kesebelasan klubnya. Hasilnya? Boleh juga. "Waktu itu dapat 20-25 ribu (rupiah) tiap kali main. Sudah gedhe. Kost-kostan aja cuma 30-40 ribu," ujarnya. Akibatnya waktu untuk bermusik memang berkurang. Lulus SMA, Frans kembali hijrah ke Jakarta. Ia masuk di Fisipol UKI. Cita-citanya jadi diplomat. Namun karena terbentur biaya Frans mengadu nasib dengan menjadi penyanyi night club di kawasan Ancol hingga 3 tahun. Frans yang tergabung sebagai anggota Pemuda Pancasila ini juga sempat bekerja menjadi debt collector dan masuk dalam kehidupan yang keras. Cita-citanya pun kandas. Akibat pekerjaannya yang nyerempet bahaya, tahun 1999 Frans sempat mencicipi dinginnya dinding penjara Polda Metro Jaya. "Saya kena 4 bulan. Waktu itu anak pertama saya, Anelo, baru berusia satu bulan," kenang ayah dari Anelo, Kezia, dan Lydia ini. Setelah dua bulan di penjara Polda, Frans dipindah ke LP Cipinang. Hidup di rutan membuatnya me-nyadari kasih Tuhan. "Hidup saya hancur, tapi Tuhan beri kekuatan untuk bersaksi. Saya pikir hidup keras itu sia-sia," katanya. Ia lantas mengajak teman-teman sesama tahanan menyikapi hidup secara positif. "Saya tetap merasakan kasih Tuhan di dalam LP. Saya ajak mereka olah raga, main musik, dan memuji Tuhan," imbuhnya. Dalam tahanan iman Frans semakin tumbuh dan berkembang. Di LP Cipinang Frans juga pelayanan bersama Xanana Gusmao, mantan presiden dan kini perdana menteri Timor Leste. "Saya teman satu sel dengan Xanana. Kami sama-sama pelayanan di LP," lanjutnya. Lagu-lagu rohani dan alunan musik sisir dan plastik dari mulut Frans mampu menjadikan spirit bagi dirinya dan teman-teman sesama penghuni LP. Berbagai aktivitas, pelayanan, dan sikap positif yang ditunjukkan Frans selama di LP berganjar citra teladan. "Saya keluar dengan status napi terbaik," ungkapnya. Lepas dari LP, Frans terpanggil terjun dalam pelayanan. Kemampuan musikalitas Frans dalam bernyanyi dan meniup sisir berbalut plastik menjadi komoditi yang tak ternilai. Lengkingan saksofon yang dihasilkan banyak mengundang decak kagum pengunjung setiap ia tampil. Bukan hanya di panggung gereja. Frans juga diundang bernyanyi dan bermusik di berbagai acara. Peresmian acara, ulang tahun instansi dan pribadi hingga Lebaran pula. Banyak petinggi negara yang mengagumi bakat uniknya. Mantan Presiden Soeharto, Megawati, juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sultan Hassanal Bolkiah dibuatnya terpesona. Ada kisah unik ketika Frans melakukan live performance di keluarga Cendana. "Saya pinjam sisir Pak Harto untuk membuktikan pakai sisir apa saja saya bisa," ujar Frans yang ketika itu memainkan lagu Sio Mama. Ternyata, kata Frans, sisir milik mantan penguasa RI selama 32 tahun itu mampu menghasilkan suara lebih merdu. Tahun 2003 ke atas hidup Frans lebih banyak untuk pelayanan. Ken-dati demikian, bukan berarti semua berjalan baik. Ada saja orang yang mengambil keuntungan dari bakatnya. Ia sempat merasakan pengkhianatan oleh teman-temannya sesama asal Papua. Mulanya diajak rekaman, tapi akhirnya rekamannya dibajak. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya dalam melayani Tuhan. Tahun 2005 Frans mendapat kesempatan pelayanan di Amerika. Meski demikian, untuk mendapatkan visa ke Amrik tidak mudah. Ketika staf kedubes AS menanyakan tujuannya ke Amerika, ia jawab bermain musik. Mereka heran. "Saya keluarkan sisir dan plastik lalu nyanyi Amazing Grace," ujarnya. Terpukau dengan nada indah kreasi Frans, mereka pun memberinya visa untuk 5 tahun! Di negeri Paman Sam ini, Frans pelayanan keliling New Jersey, new York, Philadelphia, Boston, Atlanta, dll. Ada kejadian unik ketika Frans bersama rombongan tur ke pelataran patung Liberty. Kagum dengan gedung pencakar langit dan megahnya patung Liberty, Frans lantas mengeluarkan sisir dan kantong plastiknya dan bermain memuji Tuhan. Sementara ia asyik dengan "alat musik"nya recehan dan lembaran dolar menghampiri. "Wah, saya dikira ngamen. Lumayan juga ada 80 dolaran," kenangnya. Dengan sisir pula Frans telah berkelana ke Italia, Perancis, dan Belanda. Bagaimana Frans bisa menghasilkan suara dahsyat bak permainan saksofon Kenny G. hanya dari sisir dan kantong kresek? Apakah semua sisir dan kantong plastik bisa dipakai? "Pada dasarnya semua sisir dan plastik bisa. Tapi lebih bagus kalau sisirnya agak lembut dan plastiknya tipis. Saya meniupnya pakai perasaan," ujarnya. Bunyi saksofon yang keluar dari sisir dan plastik kresek berasal dari paduan antara napas perut yang sudah terlatih dengan suara vibrasi plastik. Apa sih kesulitannya? "Sama seperti peniup pada umumnya, kalau napasnya pendek ya tidak bisa. Butuh napas panjang," ungkapnya. Kendati bakatnya terbilang langka, Frans tidak berambisi memasukkan dalam catatan rekor tertentu. "Tujuan saya bukan untuk mendapatkan penghargaan, tapi bagaimana nama Tuhan dimuliakan. Saya berharap dapat keliling dunia dengan sisir dan plastik bagi Tuhan Yesus. Saya berdoa supaya orang diberkati dan jadi kesaksian bahwa sisir dan plastik dapat memuliakan Tuhan," tandasnya. Dulu, lanjutnya, Tuhan pakai tukang kayu, nelayan, dsb. Saya bangga karena saya dulu nelayan. Saya percaya Anda lebih dari sisir. Keterbatasan tak harus membatasi kita dalam berkreativitas. Frans telah membuktikan. Merangkai melodi nan harmoni dari benda sederhana untuk membawakan nyanyian yang sarat pesan. This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Posted: 21 Jun 2011 05:19 AM PDT Frans sisir info yang anda cari Frans sisir adalah mengenai Frans sisir baca dan silahkan lihat Frans sisir kunjungi lihat Frans sisir link-link yang berkaitan dengan "Frans sisir" dan ayo "Belajarlah Selama Udara Masih Bisa Kau Hirup" Frans "Sisir" Rumbino - Menjelajah dunia dengan musik sisir, kepalanya plonthos (gundul), tapi ke mana-mana ia selalu membawa sisir yang terselip di saku celananya. Untuk apa gerangan? Sisir yang biasa kita pakai untuk mempercantik diri dibalut dengan "tas kresek" oleh Frans disulap menjadi alat musik menarik! Bakatnya terbilang langka. Bermusik dengan sisir dan kantong plastik "kresek". Benda murah dan sederhana yang jamak kita pakai sehari-hari. Namun di tangan Mesakh Frans Rumbino, kedua benda itu mampu menghasilkan alunan musik menarik. Mirip suara saksofon yang mendayu-dayu dan trombone yang riang. Ia lantas dikenal dengan Frans Sisir. Kemahirannya bermusik dengan sisir telah mengantarnya keliling dunia dan bermain di depan kepala-kepala negara. Kemampuan Frans bermusik dengan sisir dan plastik terbilang unik. Prosesnya pun tak kalah menarik. Kendati sejak kecil su-dah ditinggalkan orangtuanya, Frans kecil tak kehilangan keceriaan. "Keluarga saya broken home. Saya tinggal bersama kakek Robert dan nenek Alexanderina. Sejak kecil saya biasa mencari ikan untuk membantu kebutuhan keluarga," tutur pria kelahiran Padaido, Biak Timur, 11 Februari 1972 ini. Sepulang mencari ikan, Frans suka meniup daun atau kulit kerang, mendendangkan lagu-lagu kampung, seperti Apuse, dll. Dari kebiasaan meniup daun dan kerang itu, secara tak sengaja Frans bereksplorasi dengan sisir dan kantong plastik. Ceritanya, sebagai Putra Biak, Frans ingin mendukung kesebelasan kesayangannya, PSB Biak, ketika ada pertandingan sepak bola dalam Pekan Olahraga Daerah (Porda) di Jayapura. Namun, karena kala itu hanya ada sisir dan kantong plastik, Frans memanfaatkan kedua benda tersebut untuk menyemangati kesebelasan kesayangannya. Tak disangka, dari situlah ia mulai menyukai dan mendalaminya hingga dapat memainkannya dengan piawai. "Awalnya cuma coba-coba saja meniup sisir yang saya bungkus dengan kantong plastik kresek," ujar Frans. Semula, suaranya lurus "tet..tet ...tet..."saja. Dari situlah keluar ide untuk dipakai bermusik. Ia pun terus melatih kemampuannya meniup sisir. Mengasah talenta memang membutuhkan waktu yang lama.Awalnya tak mudah dan tidak berjalan mulus. Ia sering diolok-olok teman-temannya. Banyak tanta walaupun ada tantangan. Setiap kebaktian Jumat di SMP saya juga nyanyi dengan sisir dan plastik," ucap Frans. Di balik talenta uniknya, kehidupan Frans tak kalah seru pula. Hidup menjelajah dari satu kota ke kota lain dengan keringat dan airmata. Pindah ke Jayapura, terpisah dari orangtua Frans harus berjuang agar dapat terus menyambung hidup. "Saya hidup di pasar dan terminal. Jadi kenek, kondektur, juga membantu mengangkat belanjaan orang. Meski susah, Tuhan itu baik. Dia tidak pernah melupakan anak-anak-Nya," ujar sulung dari 6 bersaudara ini. Sekolahnya pun pindah-pindah, dari Jayapura, Blitar, Jakarta, dan kembali ke Jayapura hingga lulus SMP tahun 1988. Karena prestasinya di sekolah, Frans mendapatkan beasiswa bersekolah di SMAN 8 Malang. Di kota kecil ini ada bakat lain yang ia kembangkan. Bermain bola. Menempati posisi striker, Frans sering tampil membela kesebelasan klubnya. Hasilnya? Boleh juga. "Waktu itu dapat 20-25 ribu (rupiah) tiap kali main. Sudah gedhe. Kost-kostan aja cuma 30-40 ribu," ujarnya. Akibatnya waktu untuk bermusik memang berkurang. Lulus SMA, Frans kembali hijrah ke Jakarta. Ia masuk di Fisipol UKI. Cita-citanya jadi diplomat. Namun karena terbentur biaya Frans mengadu nasib dengan menjadi penyanyi night club di kawasan Ancol hingga 3 tahun. Frans yang tergabung sebagai anggota Pemuda Pancasila ini juga sempat bekerja menjadi debt collector dan masuk dalam kehidupan yang keras. Cita-citanya pun kandas. Akibat pekerjaannya yang nyerempet bahaya, tahun 1999 Frans sempat mencicipi dinginnya dinding penjara Polda Metro Jaya. "Saya kena 4 bulan. Waktu itu anak pertama saya, Anelo, baru berusia satu bulan," kenang ayah dari Anelo, Kezia, dan Lydia ini. Setelah dua bulan di penjara Polda, Frans dipindah ke LP Cipinang. Hidup di rutan membuatnya me-nyadari kasih Tuhan. "Hidup saya hancur, tapi Tuhan beri kekuatan untuk bersaksi. Saya pikir hidup keras itu sia-sia," katanya. Ia lantas mengajak teman-teman sesama tahanan menyikapi hidup secara positif. "Saya tetap merasakan kasih Tuhan di dalam LP. Saya ajak mereka olah raga, main musik, dan memuji Tuhan," imbuhnya. Dalam tahanan iman Frans semakin tumbuh dan berkembang. Di LP Cipinang Frans juga pelayanan bersama Xanana Gusmao, mantan presiden dan kini perdana menteri Timor Leste. "Saya teman satu sel dengan Xanana. Kami sama-sama pelayanan di LP," lanjutnya. Lagu-lagu rohani dan alunan musik sisir dan plastik dari mulut Frans mampu menjadikan spirit bagi dirinya dan teman-teman sesama penghuni LP. Berbagai aktivitas, pelayanan, dan sikap positif yang ditunjukkan Frans selama di LP berganjar citra teladan. "Saya keluar dengan status napi terbaik," ungkapnya. Lepas dari LP, Frans terpanggil terjun dalam pelayanan. Kemampuan musikalitas Frans dalam bernyanyi dan meniup sisir berbalut plastik menjadi komoditi yang tak ternilai. Lengkingan saksofon yang dihasilkan banyak mengundang decak kagum pengunjung setiap ia tampil. Bukan hanya di panggung gereja. Frans juga diundang bernyanyi dan bermusik di berbagai acara. Peresmian acara, ulang tahun instansi dan pribadi hingga Lebaran pula. Banyak petinggi negara yang mengagumi bakat uniknya. Mantan Presiden Soeharto, Megawati, juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sultan Hassanal Bolkiah dibuatnya terpesona. Ada kisah unik ketika Frans melakukan live performance di keluarga Cendana. "Saya pinjam sisir Pak Harto untuk membuktikan pakai sisir apa saja saya bisa," ujar Frans yang ketika itu memainkan lagu Sio Mama. Ternyata, kata Frans, sisir milik mantan penguasa RI selama 32 tahun itu mampu menghasilkan suara lebih merdu. Tahun 2003 ke atas hidup Frans lebih banyak untuk pelayanan. Ken-dati demikian, bukan berarti semua berjalan baik. Ada saja orang yang mengambil keuntungan dari bakatnya. Ia sempat merasakan pengkhianatan oleh teman-temannya sesama asal Papua. Mulanya diajak rekaman, tapi akhirnya rekamannya dibajak. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya dalam melayani Tuhan. Tahun 2005 Frans mendapat kesempatan pelayanan di Amerika. Meski demikian, untuk mendapatkan visa ke Amrik tidak mudah. Ketika staf kedubes AS menanyakan tujuannya ke Amerika, ia jawab bermain musik. Mereka heran. "Saya keluarkan sisir dan plastik lalu nyanyi Amazing Grace," ujarnya. Terpukau dengan nada indah kreasi Frans, mereka pun memberinya visa untuk 5 tahun! Di negeri Paman Sam ini, Frans pelayanan keliling New Jersey, new York, Philadelphia, Boston, Atlanta, dll. Ada kejadian unik ketika Frans bersama rombongan tur ke pelataran patung Liberty. Kagum dengan gedung pencakar langit dan megahnya patung Liberty, Frans lantas mengeluarkan sisir dan kantong plastiknya dan bermain memuji Tuhan. Sementara ia asyik dengan "alat musik"nya recehan dan lembaran dolar menghampiri. "Wah, saya dikira ngamen. Lumayan juga ada 80 dolaran," kenangnya. Dengan sisir pula Frans telah berkelana ke Italia, Perancis, dan Belanda. Bagaimana Frans bisa menghasilkan suara dahsyat bak permainan saksofon Kenny G. hanya dari sisir dan kantong kresek? Apakah semua sisir dan kantong plastik bisa dipakai? "Pada dasarnya semua sisir dan plastik bisa. Tapi lebih bagus kalau sisirnya agak lembut dan plastiknya tipis. Saya meniupnya pakai perasaan," ujarnya. Bunyi saksofon yang keluar dari sisir dan plastik kresek berasal dari paduan antara napas perut yang sudah terlatih dengan suara vibrasi plastik. Apa sih kesulitannya? "Sama seperti peniup pada umumnya, kalau napasnya pendek ya tidak bisa. Butuh napas panjang," ungkapnya. Kendati bakatnya terbilang langka, Frans tidak berambisi memasukkan dalam catatan rekor tertentu. "Tujuan saya bukan untuk mendapatkan penghargaan, tapi bagaimana nama Tuhan dimuliakan. Saya berharap dapat keliling dunia dengan sisir dan plastik bagi Tuhan Yesus. Saya berdoa supaya orang diberkati dan jadi kesaksian bahwa sisir dan plastik dapat memuliakan Tuhan," tandasnya. Dulu, lanjutnya, Tuhan pakai tukang kayu, nelayan, dsb. Saya bangga karena saya dulu nelayan. Saya percaya Anda lebih dari sisir. Keterbatasan tak harus membatasi kita dalam berkreativitas. Frans telah membuktikan. Merangkai melodi nan harmoni dari benda sederhana untuk membawakan nyanyian yang sarat pesan. This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| Posted: 21 Jun 2011 04:35 AM PDT Cara melangsingkan tubuh info yang anda cari cara melangsingkan tubuh adalah mengenai cara melangsingkan tubuh baca dan silahkan lihat cara melangsingkan tubuh kunjungi lihat cara melangsingkan tubuh link-link yang berkaitan dengan "cara melangsingkan tubuh" dan ayo "Belajarlah Selama Udara Masih Bisa Kau Hirup" Ada banyak cara menurunkan berat badan, mulai dari bermacam metode diet, olahraga, operasi sedot lemak, tusuk jarum, sampai minum obat pelangsing. Manakah yang aman dan efektif ? Merujuk pada badan kesehatan dunia, WHO, disebutkan bahwa penurunan berat badan yang baik tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi merupakan terapi jangka panjang. Yang dibutuhkan untuk mengurangi berat badan bukan sekadar mengurangi porsi makan, tetapi juga diperlukan bimbingan dari ahli gizi sebelum melakukan perubahan pola makan, disertai aktivitas fisik serta terapi perilaku. Untuk mencari tahu cara pelangsingan mana yang sehat, aman, sekaligus efektif, bacalah uraian berikut sampai tuntas. Sedot lemak Cara membuang lemak yang kini sedang tren adalah operasi liposuction dan tummy-tuck. Operasi ini banyak dipilih karena berat badan bisa turun secara drastis tanpa perlu capek berolahraga dan melakukan diet, hal itu dibuktikan oleh kesaksian seorang artis ternama. Tapi mengapa ya meski lemaknya sudah dibuang, badannya masih juga melar ? Pada dasarnya liposuction adalah operasi untuk mengeluarkan lemak di bawah kulit, dan dilakukan untuk mencapai keserasian bentuk tubuh, bukan untuk menurunkan berat badan. Sedangkan tummy-tuck adalah proses pembuangan jaringan lemak yang berlebih dan kulit di atasnya untuk membentuk tubuh lebih estetis. Lemak yang dikurangi pun tak boleh lebih dari 3-5 kg sekali operasi Menurut dokter spesialis gizi, dr.Johanes Chandrawinata, MND,SpGK, kedua jenis operasi tersebut biasa dilakukan dokter terhadap pasien yang memiliki tubuh bergelambir setelah berat badan tubuhnya susut. Jadi, menurunkan berat dulu baru dioperasi, bukan operasi untuk menurunkan berat karena setelah 3 bulan tubuh akan gemuk kembali. Gastric binding & gastric by-pass Tindakan ini dipilih jika dengan metode pelangsingan apa pun tidak berhasil. Gastric binding adalah pemasangan alat "pengikat lambung" yang menyebabkan kantung lambung lebih kecil sehingga kita tidak akan makan terlalu banyak karena tubuh lebih cepat merasa kenyang. Melalui tindakan ini berat badan dapat berkurang 35-60 persen dalam 12 bulan. Berbeda dengan gastric binding yang bersifat sementara, gastric by-pass bersifat permanen, dokter akan membuat 'jalan' penghubung antara pangkal lambung dengan usus halus sehingga makanan tidak melalui lambung namun langsung ke usus halus. Dengan gastric by-pass, berat badan dapat dikurangi sampai 80 persen. Untuk melakukan kedua jenis tindakan tersebut, pasien harus berusia di atas 35 tahun. Akunpuntur Sampai saat ini metode akunpuntur belum dapat dibuktikan secara ilmiah dapat menurunkan berat badan. Umumnya para pasien pun berhenti di tengah jalan karena tak kunjung mendapatkan berat ideal yang diharapkan. Obat dan suplemen pelangsing Sebelum percaya oleh iming-iming iklan, sebaiknya teliti lebih dahulu kandungan obat-obatan dan suplemen tersebut. Badan pengawasan obat dan makanan AS (FDA) bahkan melarang konsumsi suplemen pelangsing yang mengandung kandungan akftif E.sinica atau efedrin karena memiliki efek samping gejala psikiatrik, mengganggu saluran cerna serta membuat jantung berdebar-debar. Meski menyebutkan mampu menurunkan kadar lemak, tak sedikit obat pelangsing yang hanya mampu mengurangi berat tubuh 1,2 kg selama 6-14 minggu, setara dengan diet redah kalori sebesar 1250/hari pada kurun waktu 0.5 minggu tanpa obat apa pun. Diet popular Diet popular sering disebut sebagai "Fad Diets", memiliki karateristik antara lain ; menjanjikan penurunan badan yang cepat, dapat menyembuhkan berbagai penyakit, menganjurkan penggunaan suplemen, makan berdasarkan waktu tertentu, membatasi atau melarang makanan tertentu dan hanya untuk jangka pandang. Yang dapat digolongkan ke dalam fad diets misalnya diet rendah karbohidrat, food combining, diet berdasar golongan darah, mayo clinic diet. Karena banyaknya larangan untuk memakan jenis makanan tertentu, biasanya kebutuhan tubuh akan gizi tidak terpenuhi karena kekurangan vitamin, zat besi, serta serat. Dari segi ilmu gizi, setiap waktu makan (pagi, siang dan malam) dianjurkan memakan makanan yang bervariasi dalam jumlah seimbang, karena tubuh membutuhkan berbagai macam zat gizi sekaligus. Menurunkan berat badan secara sehat Meskipun belum ada jawaban pasti diet mana yang paling tepat untuk menurunkan berat badan, namun dr. Johanes merekomendasikan pola diet yang dilakukan oleh National Weight Control Registry (NWCR) di AS. NWCR adalah kumpulan data orang (ada 4000 orang) yang telah berhasil menurunkan berat badan lebih dari 13 kg dan tetap bertahan selama lebih dari 5 tahun. Karateristik pola makannya adalah rendah lemak (24 persen asupan kalori), asupan karbohidrat cukup tinggi, rendah kalori (1300-1500 kcal/hari). Karena kita tidak mungkin mengetahui berapa kalori yang dikandung dalam makanan, dr.Johanes menyarankan untuk mengurangi asupan lebih kecil dari porsi biasa. "Untuk mengurangi 500 kalori setiap hari mudah kok, misalnya jika makan gado-gado, kurangi bumbu kacang dan kerupuknya, lebih memilih nasi putih daripada nasi goreng, dan sebagainya", saran dokter yang yang berpraktek di RS. St.Boromeus, Bandung ini. Dijelaskan oleh dr.Johanes, mayoritas anggota yang terdaftar dalam NWCR melakukan makan pagi secara rutin, memantau berat badan sendiri secara berkala serta melakukan olahraga. Dengan pola makan rendah lemak rendah kalori seperti ini telah terbukti mampu menurunkan berat badan lebih dari 13 kg dan bisa dipertahankan lebih dari 5 tahun. This posting includes an audio/video/photo media file: Download Now |
| You are subscribed to email updates from Berbagi ilmu To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
Demikian artikel tentang Belajar SEO ini dapat kami sampaikan, semoga artikel atau info tentang Belajar SEO ini, dapat bermanfaat. Jangan lupa dibagikan juga ya! Terima kasih banyak atas kunjungan nya.

